Oleh NINOK LEKSONO
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/04/utama/3890820.htm
==================
Sputnik 1, satelit buatan pertama yang diluncurkan pada pukul 01.28, 5 Oktober 1957 dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan, hanya benda berbentuk bola dengan garis tengah sekitar 60 sentimeter.
Satelit tersebut untuk ukuran sekarang amat primitif. Ada banyak mahasiswa yang secara rutin membuat dan meluncurkan wahana angkasa yang jauh lebih canggih. Namun, arti Sputnik melewati sosok dan misinya yang sederhana. Sputnik bahkan melewati geopolitik yang ada pada waktu itu. Sputnik, demikian tulis Anthony Velocci (Aviation Week & Space Technology, 19-26 Maret 2007), meluncurkan abad ruang angkasa dan membawa manusia ke arah baru eksplorasi ilmiah baru dan penemuan kosmos.
Ketika roket R-7, yang juga berperan sebagai roket balistik antarbenua (ICBM), mendorong Sputnik untuk menaklukkan gravitasi Bumi, terus menanjak ke atas atmosfer, dan akhirnya tiba di orbit, tembuslah gerbang menuju ke dimensi baru pengalaman manusia. Orang, tulis John Noble Wilford (IHT, 26/9), kini bisa melihat kaumnya sebagai pengelana antariksa. Mobilitas lebih tinggi tersebut diharapkan akan bisa membebaskan, seperti halnya langkah tegak nenek moyang manusia pertama pada masa lalu.
Namun, reaksi pertama yang muncul justru mencerminkan kekhawatiran dunia yang pada saat itu sedang berada di pusaran Perang Dingin. Sputnik serta-merta mengubah ciri dan lingkup Perang Dingin.
Kembali ke sosoknya, orang wajar tak habis pikir, bagaimana bola seberat 83 kilogram dengan permukaan terbuat dari aluminium mengilat ini bisa menimbulkan efek yang demikian dahsyat. Sputnik alat sederhana, ia dilengkapi dua pemancar radio dengan antena mencuat yang memancarkan sinyal pada frekuensi yang bisa ditangkap oleh ilmuwan dan operator radio serta dengan itu meneguhkan prestasi yang dicapai.
Kuat dugaan bahwa Rusia menginginkan Sputnik sebagai pernyataan akan kehebatan teknologinya dan seiring dengan itu juga mengingatkan pihak lain akan implikasi militer kemampuan tersebut. Yang menarik, pihak Rusia sendiri tampaknya juga tidak menyangka bahwa Sputnik akan menimbulkan kepanikan luar biasa di AS. Ibaratnya, tidak ada peristiwa semenjak serangan Jepang ke Pearl Harbor yang menimbulkan reaksi seperti Sputnik. Demikian ujar Walter McDougall, sejarawan di Universitas Pennsylvania.
Krisis kepercayaan
Suara "biip... biip... biip..." Sputnik ternyata bisa membuat kebanggaan dan kepercayaan diri bangsa Amerika runtuh. Apakah kemakmuran telah membuat Amerika jadi lembek? Apakah sistem pendidikan tidak memadai, khususnya dalam mendidik ilmuwan dan insinyur? Apakah institusi demokrasi liberal tidak bisa mengimbangi masyarakat Komunis yang otoriter? Itulah sederet pertanyaan yang sempat muncul. Yang dianggap lebih menyakitkan, bangsa Amerika menganggap teknologi yang digunakan pada Sputnik sesungguhnya lebih merupakan keunggulan mereka?
Guncangan akibat Sputnik 1 belum usai, Uni Soviet meluncurkan Sputnik 2 pada 3 November 1957. Peluncuran kali ini dengan membawa seekor anjing bernama Laika, makhluk hidup pertama di angkasa, sambil memperingati Ulang Tahun Ke-40 Revolusi Bolshevik.
Ringkas kata, dengan peluncuran dua Sputnik, bangsa Amerika merasa telah dikalahkan dalam "lomba ruang angkasa". Amerika lalu berpaling kepada Eisenhower yang sudah mereka anggap sebagai bapak bangsa untuk tampil sebagai pemimpin. Sayangnya, Eisenhower yang menang meyakinkan untuk jabatan kedua tahun 1956 justru merupakan satu dari sedikit orang Amerika yang tidak panik atas sukses Sputnik. (Cold War, Jeremy Isaacs & Taylor Downing, 1998).
Namun, AS terbukti tidak runtuh sepenuhnya walaupun upaya untuk "menebus kekalahan" tidak mulus. Dua bulan setelah peluncuran Sputnik, AS–yang juga memiliki sejumlah program rudal balistik–mencoba membalas. Pada 6 Desember 1957, dengan disaksikan banyak orang di Tanjung Canaveral, Florida, roket Vanguard siap meluncur dengan mengangkut satelit mungil dengan berat kurang dari 2 kilogram. Namun, roket hanya naik sampai 0,5 meter, lalu merosot, dan meledak. Bangsa pun malu berat. Koran Daily Herald di Inggris mengolok-olok "Oh, What A Flopnik!", meminjam akhiran Sputnik, tetapi kali ini untuk yang gagal.
Dengan itu, AS bukan hanya merasa gagal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi sekaligus merasa begitu terancamnya secara militer. Harian The Washington Post menulis, "AS dalam posisi paling gawat dalam sejarahnya", dan Amerika kini menjadi "kekuatan kelas dua".
Reaksi positif
Gagal dengan Vanguard, AS melanjutkan upaya menebus kekalahan dengan lebih sistematik. Departemen Pertahanan mempercepat program pengembangan rudal. Kongres membentuk Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). AS sendiri terus menggemakan isu "kesenjangan rudal", yang lalu dibawa dalam kampanye pemilihan presiden. Isu ini pula yang diyakini ikut berperan dalam kemenangan tipis John F Kennedy. Namun, tidak lama setelah ia jadi presiden, Rusia masih membukukan prestasi gemilang. Pada April 1961 Yuri Gagarin diluncurkan ke orbit, menjadikannya manusia pertama yang mengorbit Bumi.
Setelah konsultasi selama beberapa minggu, Kennedy berpidato di depan Kongres dan mencanangkan bahwa sebelum berakhirnya dekade (1960-an) bangsa Amerika harus sudah menapakkan kaki di Bulan dan kembali ke Bumi dengan selamat.
Prelude bagi pencapaian besar dimulai ketika Apollo 8 berhasil mengitari Bulan sebanyak 10 kali pada Desember 1968. Para astronotnya untuk pertama kali melihat bulatan Bumi berwarna kebiruan dengan lilitan awan putih dari jendela kapsul. Akhirnya tiba puncak bersejarah itu, ketika pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong menjejakkan kakinya di permukaan Bulan, lalu membuat "langkah kecil bagi manusia, tetapi lompatan raksasa bagi kemanusiaan".
Apollo 11 membuat AS seperti membayar tunai utang dalam lomba ruang angkasa dengan Uni Soviet. Program Apollo total mendaratkan 10 astronot Amerika di Bulan dan setelah Apollo 17 pada tahun 1972, tidak ada lagi manusia yang pergi ke Bulan.
Namun, baik Amerika maupun Rusia tetap mengirimkan wahana antariksa, dan juga antariksawan ke ruang angkasa, meski dengan laju lebih lambat. AS mencurahkan sebagian besar dananya untuk mewujudkan program ulang alik, program yang di antara suksesnya meninggalkan goresan mendalam dengan meledaknya pesawat Challenger, 28 Januari 1986, dan berikutnya Columbia pada 1 Februari 2003.
"The last frontier"
Sputnik dipandang dari sisi lain telah memicu manusia untuk segera merambah ruang angkasa, wilayah yang kemudian disebut sebagai perbatasan terakhir (the last frontier), setelah darat, laut, dan udara.
Pada satu sisi, perjalanan angkasa tampak sudah jadi hal rutin, lebih-lebih dengan adanya program Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS). Bahkan, di luar program negara, kini juga telah berkembang turisme angkasa, setelah Rusia membuka peluang bagi mereka yang siap membayar ongkos 20 juta dollar AS, atau sekitar Rp 180 miliar. Selain itu, ada juga perusahaan swasta yang menyiapkan wisata angkasa, seperti Virgin Galactic yang dimotori oleh pengusaha Richard Branson dan Burt Rutan yang sudah berhasil mengembangkan wahana SpaceShip One. Perusahaan riset Futron memperkirakan pada tahun 2021 akan ada 14.000 turis angkasa setahunnya, memunculkan pendapatan sebesar 700 juta dollar AS (Tourists Race for Space, and Investors are Ready, IHT, 17/9).
Dalam perkembangan berikut, bukan hanya Rusia dan AS yang mendominasi ruang angkasa. China, yang setelah berhasil meluncurkan antariksawannya—Yang Liwei—dengan wahana Shenzou 5, 15 Oktober 2003, kini mempersiapkan stasiun ruang angkasa.
Eksploitasi ruang angkasa juga dilakukan oleh Eropa (dengan Perancis sebagai motor utamanya), yang kini sukses mengomersialkan roket Ariane-nya, lalu juga India yang banyak menggunakan satelit untuk memacu program pendidikan. Di luar itu masih ada Jepang, yang 13 September lalu meluncurkan wahana Kaguya untuk meneliti Bulan. Negara lain seperti Kanada memang tidak membuat roket, tetapi termasuk pionir dalam satelit dan kontributor penting dalam program ulang alik AS melalui lengan robotik Canadarm. Israel bisa ditambahkan di sini karena sejak tahun 1988 telah menggunakan roket Shavit untuk mengorbitkan satelit mata-mata militer.
Kini, di tengah makin sumpeknya Bumi karena pemanasan global dan polusi, bangsa maju melihat ruang angkasa sebagai alternatif hunian. Tak heran bila futuris melihat koloni ruang angkasa sebagai gelombang peradaban berikut.
Untuk semua itu, "biip... biip... biip..." Sputnik besar pengaruhnya.
Tuesday, October 9, 2007
"Biip... Biip... Biip..." dan Mulailah Abad Ruang Angkasa
Labels: Ninok Leksono, Teknologi
Wednesday, October 3, 2007
Hidup di Era Perang Asimetrik
Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/01/iptek/3884227.htm
==================
"Ancaman perang asimetrik (PA) tidak dapat dihadapi dengan cara
konvensional, apalagi pendekatan militer, karena PA apalagi yang
muncul dan berkembang dari dinamika politik, pada dasarnya harus
diatasi dengan pendekatan politik."
(Theo L Sambuaga, Ketua Komisi I DPR, 27 September 2007)
Perhatian terhadap perang asimetrik tampak nyata ketika pejuang Hizbullah dapat meladeni kekuatan militer Israel (Israel Defence Force) dalam perang yang terjadi di pertengahan tahun 2006 lalu. Hizbullah tidak hilang nyali meskipun Israel mengerahkan mesin perang supercanggih seperti F-16 Sufa. Andalan mereka hanya semangat tempur tinggi, roket Katyusha, dan kecerdikan cara menembakkan roket tersebut, yang sempat menimbulkan ketakutan di kalangan warga yang tinggal di wilayah utara Israel.
Namun, di luar wilayah konflik di Timur Tengah, sesungguhnya perang asimetrik dewasa ini tengah melanda dunia. Amerika Serikat pun dibuat pusing, dan negara seperti Indonesia pun tidak luput dari fenomena ini.
Memerhatikan perkembangan semacam itu, Dewan Riset Nasional (DRN) Kamis (27/9) lalu menyelenggarakan Seminar Terbatas Perang Asimetrik di Jakarta. Tampil sebagai pembicara adalah Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga, mantan Wakil KSAD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, Staf Ahli Menteri Ristek Richard Mengko, dan pengajar Kajian Strategik Intelijens UI T Saut Situmorang.
Kiki Syahnakri dan Richard Mengko menggarisbawahi pandangan DRN bahwa PA cenderung semakin banyak dipraktikkan dalam konflik militer maupun nonmiliter.
Seiring dengan perubahan bentuk peperangan atau cara suatu negara dalam upaya menguasai negara atau bangsa lain, maka spektrum PA bertambah luas.
Menurut Kiki, cara berperang dengan menggunakan senjata atau hard power kini dianggap tidak efisien. Sekadar contoh, sejak September 2001 AS sudah mengeluarkan 602 miliar dollar AS untuk perang Afganistan dan Irak, tetapi apa hasilnya?
Taliban masih eksis dan melawan dengan tangguh, sementara di Irak yang dicapai hanya penggulingan regim Saddam Hussein, tetapi kestabilan yang diharapkan tak kunjung muncul. Untuk tahun 2008, pemerintahan George W Bush masih akan minta anggaran 170 miliar dollar AS lagi untuk perang di kedua negara (Kompas, 28/9).
Kalau hard power jadi tidak efisien, maka soft power dinilai jauh lebih efisien. Di sini termasuk perang budaya, perang ekonomi dan finansial, juga perang informasi. Dengan corak baru ini, yang bertindak sebagai tentara bagi negara maju antara lain perusahaan multinasional dan organisasi nonpemerintah.
Perang asimetrik
Dalam pemahaman umum, PA semula dimaknai sebagai perang antara dua atau lebih kelompok yang kekuatannya berbeda besar. Dalam perkembangan lebih lanjut, pemikir militer masa kini memperluas definisi di atas dengan memasukkan aspek asimetrik dalam strategi dan taktik. Tidak jarang yang muncul di sini adalah strategi dan taktik perang nonkonvensional. Pihak yang lebih lemah berusaha menggunakan strategi untuk menutup kekurangan dalam hal jumlah maupun kualitas.
Richard Mengko mengutip bahwa konsep PA yang dipraktikkan di luar hukum-hukum perang lalu sering didefinisikan sebagai "terorisme".
Dalam konteks modern, PA sering dipandang sebagai komponen Perang Generasi Ke-4.
(Sekadar catatan, mengutip Greg Wilcox, analis militer AS, 2003, Perang Generasi Pertama bertepatan dengan era munculnya senapan dan tentara mulai memanfaatkannya untuk mendapatkan sarana tembak dalam jumlah besar. Perang Generasi Ke-2 bertepatan dengan era munculnya teknologi di Abad ke-19, seperti senapan mesin yang efeknya berlanjut hingga ke era Perang Dunia. Adapun Perang Generasi Ke-3 ditandai dengan motivasi ide sebagai penggeraknya, hingga kemudian sering disebut sebagai peperangan manuver, yang diperlihatkan oleh Jerman yang melancarkan perang kilat (blitzkrieg) semasa Perang Dunia II.
Perang Generasi Ke-4 oleh sejumlah analis sering disederhanakan sebagai terorisme. Ia melahirkan ancaman global, menerapkan organisasi sel dan kelompok aksi yang membangkitkan diri sendiri, acap dilandasi oleh keyakinan etnik, agama, moral, mengincar sasaran masyarakat atau ekonomi yang rawan.
Di sini dikenal pula sponsor negara (dalam hal dana, fasilitas, dan tempat perlindungan), pemanfaatan media untuk memengaruhi opini publik, memanfaatkan teror sebagai alat pilihan, dan punya akses terhadap persenjataan teknologi tinggi yang bisa diperoleh di pasaran.
Sementara itu, basis Perang Generasi Ke-4 bisa berupa nonnasional atau transnasional, seperti ideologi atau agama; melakukan serangan langsung terhadap kultur musuh, dan mampu melancarkan perang psikologis amat canggih, dalam hal ini melalui manipulasi media.
Peneliti Perang Generasi Ke-4 berkeyakinan bahwa tipe perang ini tidak akan menggantikan Perang Generasi Ke-3 dan Ke-2, tetapi akan berkoeksistensi. Berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh ahli falsafah dan strategi perang Clausewitz, yang melihat perang sebagai benturan kebijakan dua negara, Perang Generasi Ke-4 (sering diringkaskan dengan 4GW) bisa diibaratkan petinju lawan infeksi virus.
Meskipun demikian, senjata dan taktik dalam 4GW tidak terbatas pada terorisme. Di Amerika Selatan sempat ditemukan kapal selam yang sedang dibangun oleh kelompok penyelundup obat bius. Jadi praktik 4GW bisa diibaratkan sebagai Fase III aksi gerilya Mao. Ketika musuh sudah sempoyongan, aksi bisa diteruskan dengan pemanfaatan sarana dan taktik konvensional untuk menghancurkan militer musuh yang tersisa.
Konteks Indonesia
Indonesia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah sekarang ini juga terpapar pada ide dan potensi dampak PA dan 4GW. Situasi yang berkembang dewasa ini, juga perspektif sejarah yang memperlihatkan bahwa kekuatan lebih lemah bisa mengalahkan kekuatan lebih kuat, di satu sisi bisa melahirkan pandangan optimistik.
Tentang AS yang dibuat kerepotan oleh Vietkong di tahun 1960-an, atau oleh milisi Lebanon (1982), atau juga oleh jawara (warlord) Somalia (1992-1994), menjadi contoh- contoh historis. Tampak bahwa kekuatan raksasa bak Goliath dibuat tidak berdaya secara militer, atau bahkan secara politis kalah oleh lawan-lawan yang berukuran David (Jeffrey Record, Why The Strong Lose, Parameters, 2005).
Indonesia di lingkup regional juga secara militer berada dalam posisi asimetrik dibandingkan tetangga-tetangga dekatnya. Secara militer, bila ingin mengo- reksi keseimbangan, diperlukan kreativitas untuk menghadapi jet tempur atau kapal selam maju yang dimiliki tetangga.
Pada sisi sebaliknya, Indonesia dipandang terlalu kuat oleh pihak-pihak yang punya aspirasi lain, khususnya yang masih belum, atau tidak mau, menerima konsep NKRI dengan berbagai alasan. Atau, lebih spesifik lagi, seperti dikemukakan oleh Saut Situmorang, rakyat yang tertinggal dalam derap pembangunan, potensial untuk meletupkan PA.
Sebenarnya, insiden Cakalele di Ambon 29 Juni 2007 juga bisa disebut sebagai manifestasi PA. Selain menggarisbawahi pandangan bahwa PA memperlebar teater konflik, tidak saja militer tetapi juga seni-budaya; kejadian Cakalele juga memperlihatkan, bagaimana si lemah bisa membuat si kuat "kecolongan" dan menderita kerugian, dalam hal ini dalam soal citra politik.
Si Lemah lawan Si Kuat tak hanya diterapkan RMS di Ambon. Seperti dikemukakan oleh Theo Sambuaga, pemberontak Zapatista di Meksiko juga melancarkan perlawanan terhadap pemerintah yang sah dari pedalaman hutan rimba, sambil menggunakan laptop untuk menyusun strategi dan melancarkan propaganda.
Jelas bahwa sasaran dan medan PA dan 4GW tidak lagi terbatas pada perebutan wilayah, tetapi menjangkau ekonomi, kultur, media, komunikasi, psikologi massa, energi, dan sebagainya. Suasana PA dan 4GW demikian berbeda, di mana peperangan tidak ditandai dengan front jelas, kombatan tanpa uniform, dan sebenarnya berlangsung terus-menerus (kontinu), kata Richard Mengko.
Tanpa merujuk satu kasus spesifik, dengan melihat kondisi nasional yang belum kokoh, perpolitikan masih tinggi, sementara keadaan perikehidupan rakyat pada umumnya masih jauh dari sejahtera, potensi PA tampak riil di Indonesia. Potensi ini jauh lebih riil daripada potensi invasi oleh satu negara asing.
Labels: Ninok Leksono, Teknologi
Wednesday, September 26, 2007
Orang Terkaya AS dan EBP
Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/26/utama/3868149.htm
===================
"Aset paling berharga bagi perusahaan pada abad ke-21 adalah pengetahuan dan pekerja terdidik. Pengetahuan telah menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan lantaran dapat terdepresiasi, bahkan memunculkan perusakan lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia". (Peter Drucker, Management Challenges for the 21st Century)
Pekan silam terbit daftar orang terkaya Amerika versi majalah Forbes. Yang menarik, urutan teratas masih—untuk ke-14 tahun berturut-turut—ditempati pendiri Microsoft Corp Bill Gates, dengan harta sekitar 59 miliar dollar AS (sekitar Rp 560 triliun). Pada urutan ke-4 ada Larry Ellison, pendiri dan CEO Oracle, dengan kekayaan 26 miliar dollar AS.
Perubahan terjadi pada daftar 10 orang terkaya. Untuk pertama kalinya tahun ini masuk dua pendiri perusahaan Google Inc, yakni Sergey Brin dan Larry Page, di urutan ke-5. Kekayaan kedua mogul berusia 34 tahun ini membesar empat kali sejak tahun 2004 dan tahun ini menjadi sekitar 18,5 miliar dollar AS. Nilai saham perusahaan mereka meningkat 500 persen.
Nama-nama lain dalam daftar Forbes tersebut berasal dari kalangan investor, sementara urutan kedua diduduki oleh mogul kasino. Di luar itu, harga minyak yang membubung juga membantu meningkatkan kekayaan juragan (baron) minyak bersaudara, Charles dan David Koch, yang tahun ini menempati urutan ke-9 dengan kekayaan 17 miliar dollar AS.
Mengamati daftar di atas, satu hal yang menggelitik adalah tampilnya sosok-sosok yang berusaha di bidang teknologi informasi (TI), dalam hal ini Microsoft, Oracle, dan Google. Tampaknya, tampilnya orang-orang tersebut menggantikan citra lama bahwa yang bisa menjadi orang terkaya adalah mereka yang berusaha di sektor pertambangan, otomotif, atau usaha konvensional lain.
Dari satu sisi, ini seperti menyiratkan atau membenarkan penilaian bahwa peluang ekonomi, atau perekonomian itu sendiri, telah berubah, yaitu dari ekonomi berbasis sumber daya (resource-based economy) ke ekonomi berbasis pengetahuan (EBP) atau knowledge-based economy.
Seperti disitir oleh Peter Drucker di atas, sumber daya (alam) tidak dapat diandalkan karena dapat terdepresiasi. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan justru terus berkembang.
Kekuatan "knowledge"
Seperti diuraikan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof Zuhal dalam bukunya (mengenai daya saing, yang segera terbit), selama sejarah umat manusia sumber daya alam, seperti tanah, mineral, minyak bumi, dan hutan, merupakan modal kesuksesan banyak bangsa, tetapi kini sumber daya alam bukan faktor utama lagi.
"Orang kini telah menemukan kekuatan baru yang nonfisik dan selalu terbarukan, itulah yang disebut knowledge atau ilmu pengetahuan," tulisnya.
Bill Gates jelas contoh yang paling spektakuler. Ia bukan tuan tanah, bukan pemilik tambang minyak, atau emas, bukan industrialis, dan bukan diktator yang memiliki tentara yang sangat kuat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, didapati bahwa manusia terkaya di dunia bermodalkan knowledge, dalam hal ini adalah pengetahuan tentang komputasi.
Ditambahkan bahwa nilai semua logam emas yang pernah ditambang dalam sejarah umat manusia, dari zaman sebelum Mesir kuno sampai penambangan modern, seperti di Freeport, termasuk berbagai cadangan negara, seperti cadangan Amerika Serikat di Fort Knox, bernilai hanya kurang dari nilai enam perusahaan komputer/TI, yakni Microsoft, Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Jadi, nilai perusahaan TI di atas sungguh besar dan pasti jauh lebih besar lagi kalau Google dan Oracle dimasukkan.
Dalam kolom iptek ini, 5 September silam, telah diulas pentingnya peran technopreneur, yakni wirausaha bidang teknologi, dalam merespons perkembangan zaman. Selain menelurkan tenaga-tenaga TI yang kapabel, pendidikan itu sendiri diharapkan bisa mengembangkan jiwa kewirausahaan.
Dalam soal terakhir itu, riwayat hidup tokoh seperti Bill Gates, juga orang-orang terkaya dari bidang TI di atas, bisa disimak. Bill Gates seharusnya bangga karena tahun 1973 ia diterima di Universitas Harvard yang amat bergengsi. Namun, pada tahun awal ia sudah men-DO-kan diri karena ingin mencurahkan segenap tenaga dan pemikirannya untuk Microsoft, perusahaan yang didirikan tahun 1975 dengan teman semasa masih remaja, Paul Allen. Mereka seperti mendapat "wangsit" dan itu lalu menjadi keyakinannya bahwa PC akan menjadi alat yang sangat berguna di setiap kantor dan di setiap rumah sehingga mereka lalu terpanggil untuk membuat program untuk PC.
Di sinilah tampak betapa kecerdasan Gates mampu melihat apa yang akan terjadi pada masa depan dan menangkap apa yang akan dibutuhkan. Lebih dari itu, ia memberanikan diri memenuhi panggilan hidup untuk membela visi yang diyakini tersebut dengan mendirikan perusahaan.
Hal yang sama juga diperlihatkan orang terkaya lain, Larry Ellison. Ia mendirikan Oracle tahun 1977 dengan mengerahkan semua uang 2.000 dollar AS miliknya. Riwayatnya juga tidak seluruhnya bulan purnama karena tahun 1990 Oracle dilanda krisis dan nyaris bangkrut. Di luar itu, Oracle survive dan kini banyak disebut sebagai perusahaan pembuat perangkat lunak nomor dua di dunia.
Merespons zaman baru
Menanggapi zaman (ekonomi) baru ini, Indonesia tentu saja harus merespons kalau tak mau semakin tertinggal. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh sempat menyebut perlunya dicapai massa kritis agar TI memberi manfaat berarti bagi pertumbuhan Indonesia. Maksud Menkominfo adalah tentu tidak saja pengetahuan TI semakin merasuk dalam sendi kehidupan bangsa, tetapi juga berarti karena tenaga TI yang mencapai massa kritis akan lebih mudah menggerakkan semangat kewirausahaan.
Dalam kaitan EBP, sebenarnya bidang yang terbuka tidak semata TI karena elemen fundamental di sini adalah pada aspek daya saing, yang muncul karena adanya keunggulan kompetitif, bukan lagi keunggulan komparatif.
EBP—yang mulai sering disebut-sebut di sini pada awal 1990-an—menyiratkan bahwa negara tidak dapat bersandar pada ekonomi semata, tetapi juga pada semua aktivitas kehidupan warganya dalam proses penciptaan, pemanfaatan, dan pendistribusian pengetahuan. Penerapan EBP dimaksudkan untuk memacu daya saing, produktivitas, dan pertumbuhan dengan pendekatan baru, melalui pendidikan, inovasi, pemanfaatan TI, meluaskan jejaring kerja sama, dan—yang tidak kalah pentingnya menurut Prof Zuhal—adalah melalui pemberian peranan baru yang berbeda kepada pemerintah.
Sejumlah negara, seperti Norwegia (yang kini terkenal dengan salmon dan ekspor migasnya) dan juga Finlandia (dengan industri telepon selulernya) adalah contoh sukses melalui penerapan EBP. Indonesia dalam hal ini pun perlu menetapkan langkah, kalaupun bukan untuk menciptakan "orang terkaya", untuk memperbaiki perikehidupan rakyat pada umumnya.
Labels: Ninok Leksono, Pendidikan
Wednesday, September 19, 2007
Meredupnya Pamor IQ
Oleh NINOK LEKSONO
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/19/utama/3855839.htm
====================
"Sementara psikometrika menawarkan daya tarik semu fakta obyektif, sains baru membawa kita kembali ke dalam kontak dengan sastra, sejarah, dan kemanusiaan, dan—pada akhirnya—ke keunikan individu." ("The Waning of IQ", David Brooks, IHT, 15-16/9/2007)
Hingga hari ini pun masih banyak orangtua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (intelligence quotient) di atas level normal (lebih dari 100). Syukur-syukur kalau bisa jadi anak superior dengan IQ di atas 130. Harapan ini tentu sah saja. Dalam paradigma IQ dikenal kategori hampir atau genius kalau seseorang punya IQ di atas 140. Albert Einstein adalah ilmuwan yang IQ-nya disebut-sebut lebih dari 160.
Namun, dalam perjalanan berikutnya orang mengamati, dan pengalaman memperlihatkan, tidak sedikit orang dengan IQ tinggi, yang sukses dalam studi, tetapi kurang berhasil dalam karier dan pekerjaan. Dari realitas itu, lalu ada yang menyimpulkan, IQ penting untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi kemudian jadi kurang penting untuk menapak tangga karier.
Untuk menapak tangga karier, ada sejumlah unsur lain yang lebih berperan. Misalnya saja yang mewujud dalam seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa bisa ia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes ia berkomunikasi dan menangkap bahasa tubuh orang lain.
Unsur tersebut memang tidak termasuk dalam tes kemampuan (aptitude test) yang ia peroleh saat mencari pekerjaan. Pertanyaan sekitar hal ini kemudian terjawab ketika Daniel Goleman menerbitkan buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (1995).
Sebelumnya, para ahli juga telah memahami bahwa kecerdasan tidak semata-mata ada pada kemampuan dalam menjawab soal matematika atau fisika. Kecerdasan bisa ditemukan ketika seseorang mudah sekali mempelajari musik dan alat-alatnya, bahkan juga pada seseorang yang pintar sekali memainkan raket atau menendang bola.
Untuk yang terakhir ini orang mudah mengingat karya Howard Gardner yang mengemukakan Teori Kecerdasan Berganda (Multiple Intelligences) dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Mutiple Intelligences (Basic Books, 1983).
Buku Gardner tampak berpengaruh besar karena setelah itu banyak pendidik yang lalu mengubah cara mengajarnya. Teori Gardner juga mengubah cara orang memandang IQ, dan juga persepsi tentang "menjadi pintar". Mungkin perubahan paling penting ada pada cara pandang guru terhadap murid. Setelah itu guru memberikan perhatian lebih besar terhadap apa yang bisa dikerjakan lebih baik oleh murid, dan bukan pada apa yang tidak bisa mereka kerjakan.
Buku-buku berikut Gardner, seperti The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach (Basic Books, 1991) dan Multiple Intellligences: The Theory in Practice (Basic Books, 1993) memberikan gambaran lebih jauh tentang bagaimana kecerdasan berganda bisa membuat para guru mengajar dan mengevaluasi murid dengan cara baru dan lebih baik (education world.com, 16/2/1998).
Dalam Frames of Mind, Gardner, guru besar di Universitas Harvard, menyebut tujuh macam kecerdasan: kecerdasan linguistik (kecakapan dan kepekaan terhadap arti dan tata kata-kata); kecerdasan logika-matematika (kecakapan dalam matematika dan sistem logika kompleks lainnya); kecerdasan musikal (untuk memahami dan mencipta musik); kecerdasan spasial (kecakapan "berpikir dalam gambar", untuk memahami dunia visual secara akurat, lalu mencipta kembali (re-create) atau mengubah (alter) dalam pikiran atau di atas kertas. Kecerdasan spasial berkembang besar pada seniman, arsitek, perancang, dan pematung.
Kecerdasan yang kelima adalah kecerdasan tubuh-kinestetik yang diperlihatkan dalam kemampuan menggunakan tubuh dengan terampil, baik untuk ekspresi diri maupun untuk mencapai satu tujuan. Penari, pemain sepak bola, aktor, termasuk sosok yang memperlihatkan jenis kecerdasan ini.
Yang keenam adalah kecerdasan antarpribadi (interpersonal), yakni kecakapan untuk memahami individu lain—suasana hati, keinginan, dan motivasinya. Pemimpin politik dan agama, orang tua dan guru yang arif, juga penyembuh, banyak menggunakan jenis kecerdasan ini.
Lalu yang ketujuh adalah kecerdasan intrapersonal, yakni kecakapan untuk mengerti emosi sendiri. Sejumlah konselor, juga novelis, menggunakan pengalaman pribadi untuk membimbing orang lain.
Kecerdasan kedelapan kemudian dimunculkan Gardner dalam percakapan dengan Kathy Checkley dalam satu wawancara Kepemimpinan Edukasional. Yang dimaksud di sini ternyata kecerdasan lingkungan (naturalis), yakni kecakapan untuk mengenali dan menggolong-golongkan tanaman, mineral, dan binatang, juga batuan dan rerumputan, atau flora dan fauna secara umum. Kemampuan untuk mengenali artifak budaya boleh jadi juga masuk dalam kecerdasan naturalis ini. Tentu saja sosok yang pasti unggul dalam hal ini adalah Charles Darwin.
IQ meredup
Dalam lingkup yang lebih luas itu, IQ—yang dalam satu masa pernah menjadi metode andal untuk menangkap kemampuan mental seseorang—kini tampak meredup. Dengan IQ, dulu banyak diyakini orang terlahir dengan ukuran cc mesin pengolah informasi tertentu. Yang pintar punya Daya Kuda lebih besar daripada yang rata-rata.
Sayangnya, kemudian diketahui masih ada yang belum memuaskan dengan IQ. Di luar penjelasan Gardner itu, orang sulit berkonsensus tentang kecerdasan. Ada yang berpendapat kecerdasan adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan, dan lainnya beranggapan kecerdasan adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak, dan seterusnya.
Lalu ada pola aneh dalam paham itu. Misalnya, pada abad lalu, rata-rata IQ naik dengan laju 3 sampai 6 poin per dekade. Gejala yang dikenal sebagai Efek Flynn ini terukur di banyak negara dan berlaku untuk semua kelompok usia (David Brooks, "The Waning IQ", IHT, 15-16/9/2007).
Catatan lain adalah IQ banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Seseorang yang tumbuh di kehidupan miskin membuat kecerdasannya tumbuh buruk, kata Eric Turkheimer dari Universitas Virginia. Hal yang sama juga terjadi jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang secara emosional menekan.
Dengan berbagai catatan yang ada, IQ oleh Brooks disebut sebagai kotak hitam, yang bisa mengukur sesuatu, tetapi tidak jelas apa itu. Ia juga tak bisa digunakan untuk meramalkan apa yang akan dilakukan seseorang dalam hidupnya.
Para peneliti dewasa ini lalu mengalihkan perhatian, tidak lagi pada kekuatan otak semata. Menilai kecerdasan kini sudah tak lagi seperti mengukur tenaga kuda dalam sebuah mesin, tetapi lebih seperti menonton balet. Kecepatan dan kekuatan yang diperlihatkan penari adalah bagian dari kecerdasan, dan unsur itu bisa diukur secara numerik. Namun, intisari aktivitas balet hanya ditemukan dalam irama gerak, keanggunan, dan kepribadian, sifat yang merupakan produk campuran dari emosi, pengalaman, motivasi, dan keturunan.
Riset otak mutakhir, kata Brooks, sudah tidak lagi mereduksi segala hal ke dalam impuls listrik dan denyut yang bisa dikuantifikasi, tetapi pada segi yang justru meningkatkan penghargaan orang terhadap kompleksitas dan keragaman manusia.
Tampak bahwa IQ memang masih jauh dari mencukupi untuk memersepsikan seseorang. Potensi yang dikandung pada individu ber-IQ tinggi rupanya masih perlu dilengkapi dengan kecerdasan lain untuk menciptakan sukses tidak saja dalam karier, tetapi juga dalam kehidupan.
Labels: Ninok Leksono, Pendidikan
Thursday, September 13, 2007
PT DI di Antara XAC, Airbus, dan Boeing
Oleh Ninok Leksono
=======================
Tentu tidak sepadan membandingkan pabrik pesawat raksasa Amerika Serikat, Boeing, atau raksasa Eropa, Airbus, dengan PT Dirgantara Indonesia. Namun, dari Airbus dan Boeing sekalipun, PT DI dapat terus belajar tentang ilmu-ilmu apa saja yang perlu dimiliki untuk mengembangkan industri pesawat terbang yang unggul dan secara penjualan berjaya.
Boeing yang riwayatnya sudah terentang 91 tahun kini sedang berbunga-bunga setelah merebut kembali mahkota "raja pembuat pesawat" yang selama beberapa tahun sempat direbut oleh Airbus. Dengan produk baru yang menjadi andalannya, 787 Dreamliner, Boeing kembali percaya diri. Sebanyak 684 jet penumpang jarak menengah ini telah terjual kepada 47 klien dengan nilai 114 miliar dollar AS.
Pesawat 787 yang terbuat dari sistem yang sepenuhnya baru juga telah melahirkan kembali Boeing. Sistem pembuatan perakitan top-down dan "kami tahu semuanya" kini digantikan dengan system-integrator yang lebih kooperatif dan berbagi (power-sharing).
Perusahaan yang kini berpusat di Chicago ini juga belajar banyak untuk lebih mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh klien. Ini, seperti dikutip Coco Masters (Time, 17/9), satu pelajaran yang tidak mudah. Namun, Boeing justru jadi terbuka pikirannya akibat tekanan dari pesaing bebuyutannya, Airbus, yang terakhir telah menginvestasikan dana sebesar 10 miliar dollar AS untuk membuat superjumbo yang oleh Masters disebut sebagai "Spruce Goose modern".
Kalau Spruce Goose adalah itik raksasa yang urung mengangkasa, karya Airbus justru sedang akan mengawali satu era baru penerbangan mulai bulan depan. Setelah penyerahan pertama kepada maskapai Singapore Airlines 15 Oktober mendatang, superjumbo A-380 yang berkapasitas 555 penumpang akan memulai layanan komersial pertamanya dengan rute Singapura-Sydney pada pekan terakhir Oktober.
Bahwa Boeing bisa kembali menemukan kepercayaan diri kembali itu karena pengelolanya tak pernah patah semangat, memiliki jiwa kewirausahaan sejati, dan mau belajar dari pengalaman hari kemarin. Dengan didukung oleh inovasi teknologi, Boeing kini punya senjata baru, 787 Dreamliner, yang diyakini akan menjadi pilihan pertama penumpang.
Jet yang diluncurkan perdana Juli lalu di Seattle ini akan punya kelengkapan interior serba baru, dengan tekanan udara lebih besar, kelembaban udara lebih besar, jendela lebih besar, ruang lebih besar, tetapi emisi karbon per penumpang lebih kecil. Maskapai penerbangan diyakini akan menyukai pesawat yang berbiaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah ini.
Ketika Airbus sedang berkutat mengatasi keterlambatan A-380 yang membuatnya harus merogoh 3 miliar dollar AS lagi, lalu juga memaksanya memberhentikan 10.000 karyawannya musim semi kemarin, keunggulan atas Boeing pun lepas. Dari jumlah pesanan pesawat hingga akhir tahun ini, Boeing dengan 701 pesanan, unggul 13 pesawat dibandingkan dengan Airbus. Raksasa Amerika ini juga mengumumkan keuntungan terbesar selama empat tahun terakhir (1,1 miliar dollar AS), dan untuk pertama kalinya bagian pesawat komersial mengalahkan bagian militer dalam segi omzet.
Sungguh riwayat yang mengesankan.
"Everett of the East"
Pada dasawarsa 1980-an, PT Dirgantara Indonesia (DI), yang kala itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), sempat menimbulkan harapan besar. Pabriknya di Bandung, Jawa Barat, bertambah luas dan dilengkapi dengan peralatan mutakhir. Tidak sedikit tamu yang sempat berkunjung ke IPTN geleng-geleng kepala melihat kemodernan industri kedirgantaraan Indonesia ini.
Adanya mesin pemotong logam yang amat canggih, misalnya dengan diprogram bisa diminta melakukan pemotongan logam untuk menjadi buah catur yang rumit, serta perangkat lunak untuk desain dan manufacturing (CAD/CAM) Catia yang maju, termasuk hal yang mengundang decak kagum.
Setelah diawali dengan merakit pesawat turboprop CASA C-212, lalu dilanjutkan dengan usaha patungan dengan CASA Spanyol membuat CN-235 yang terbang perdana 31 Desember 1983, IPTN pun lalu merambah ke upaya pencapaian teknologi lebih maju, yang lalu mewujud pada N-250 yang terbang perdana 10 Agustus 1995, hadiah hebat bagi Tahun Emas RI. Bahkan, setelah itu, sempat pula diluncurkan proyek jet penumpang N-2130.
Ketika upaya terus dirintis untuk mengembangkan pesawat, datang krisis ekonomi 1997 yang memorak-porandakan semuanya. Atas badai yang datang ini, bisa saja Indonesia atau IPTN yang, setelah itu berubah menjadi PT DI, menyalahkan pihak lain. Namun, tetap ada pelajaran yang harus dipetik, antara lain IPTN/PT DI memang terlalu berat ke pencapaian teknologi, padahal sebagai perusahaan tugas pertamanya adalah memperoleh penghasilan agar perusahaan terus sehat dan bisa tumbuh.
Selanjutnya industri kedirgantaraan nasional ini pun harus tertatih-tatih, sampai sempat diberitakan harus membuat panci dan antena parabola. Lebih memprihatinkan lagi hubungan industrial antara manajemen dan karyawan pun memburuk, yang dampaknya berlarut hingga hari ini. Semuanya mencapai puncaknya dengan keluarnya keputusan pengadilan yang memailitkan perusahaan yang amat berkibar pada era Orde Baru ini.
Ini tentu riwayat yang tragis dan amat kontras dengan Boeing, yang meskipun sempat disusul oleh Airbus tetapi kemudian bisa merebut kembali posisi terunggulnya. Juga dikatakan tragis karena pada masa jaya, IPTN di Bandung sempat dijuluki "Everett of the East", meminjam Boeing dan kota yang menjadi pusat produksinya di Everett, dekat Seattle, negara bagian Washington.
Harus bangkit
Akan tetapi, PT DI tak boleh tenggelam dalam kesuraman. Pertama-tama perusahaan ini—dengan bantuan pemerintah—harus bisa menyelesaikan persoalannya dengan mantan karyawan secara sebaik-baiknya (dengan take and give, bersemangat win-win). Di bawah kepemimpinan dirut baru (Dr Budi Santoso yang banyak membawa kemajuan di PT Pindad sebelum ini) harapan tersebut ada.
PT DI harus dirombak secara fundamental dalam pola pikir dan pendekatan kerjanya, juga dalam memilih produk-produknya. Kalaupun kepada pimpinan nasional direksi baru menjelaskan ada prospek bisnis sekitar 600-700 juta dollar AS, seperti dicerminkan dalam negosiasi yang kini sedang dijalankan, hal itu masih membutuhkan dukungan modal awal yang tidak kecil.
Yang jelas, dari segi produknya PT DI harus tidak lagi berorientasi pada sesuatu yang serba canggih. Cukup satu N-250! Selanjutnya kembali ke ide untuk menghasilkan produk yang bisa menjadi "Bus Nusantara". Indonesia masih banyak membutuhkan pesawat seperti NC-212, CN-235 yang andal, tangguh, bandel untuk mendarat dan lepas landas dari landasan sederhana. Tidak perlu fly-by- wire, yang penting punya mesin dan alat navigasi andal.
Terakhir, banyak disinggung rencana pengembangan pesawat N-219, tetapi seperti dikutip Flight International (21/2/2006), diperlukan dana awal sebesar 75 juta dollar AS untuk meluncurkan proyek ini. Kalau memang itu sulit, mengapa tidak dijajaki kemungkinan untuk memulihkan kerja sama dengan EADS (induk CASA) yang dulu pernah menjadi mitra, tetapi hubungan kemudian runyam gara-gara IPTN keliru pendekatan.
Seperti dikemukakan dalam Asian Aerospace 2006 di Singapura, pihak EADS sudah membuka peluang dialog untuk pembukaan kembali kerja sama, antara lain dengan pembukaan fasilitas produksi C-212-400 di Bandung, dan PT DI membantu dalam pemasarannya di Asia, sedangkan CASA untuk bagian dunia lainnya.
Di era ketika mobilitas penduduk Indonesia makin tinggi— ditandai dengan maraknya industri angkutan penerbangan sejak adanya liberalisasi tahun 1999—potensi amat besar, dan akan akan lebih besar lagi kalau memperhitungkan daerah-daerah yang selama ini masih belum sepenuhnya dilayani, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Selain peluang pesawat, PT DI juga punya peluang bisnis sebagai pemasok komponen bagi pabrik Boeing maupun Airbus, yang secara prinsip kini memang banyak mensubkontrakkan pembuatan komponen.
Peluang juga ada untuk produk militer, misalnya untuk pembuatan CN-235 MPA (Maritime Patrol Aircraft). CN-235 versi VIP juga produk lain yang bisa ditawarkan, toh Malaysia dan Pakistan sudah memesannya. Indonesia juga pasti membutuhkan CN-235 untuk hujan buatan dan misi SAR.
Tentu membeli pesawat membutuhkan dana. Namun, Indonesia harus mulai belajar membatasi kemudahan pembelian dengan cara mengimpor yang lazimnya memanfaatkan fasilitas kredit ekspor (KE).
Dengan fenomena ini, kini yang berpeluang menikmati adalah pabrikan lain, apakah itu PZL-Meilec dari Polandia atau XAC (Xi'an Aircraft Industry Company). Industri China ini terakhir berhasil menjual produk andalannya, pesawat turboprop MA-60 (atau Xinzhou-60), kepada Merpati Nusantara Airlines.
Pada sisi lain, XAC yang telah menjual produknya ke Zimbabwe, Zambia, Laos, Kongo (Xinhua, 4/10/2006), tentu juga bisa menjadi salah satu acuan PT DI untuk pengelolaan usaha yang berhasil.
Terakhir, pemerintah banyak mengumumkan akan memberi kesempatan lebih besar pada industri dalam negeri, termasuk PT DI. Jadi, kalau PT DI dapat lolos dari kemelut yang melilitnya sekarang ini dan kalau pemerintah konsisten dengan ucapannya, peluangnya masih sangat besar.
Kegagalan untuk membuat PT DI hidup jelas akan menjadi catatan hitam sejarah bangsa. Bagaimana satu negara dan bangsa dengan rentang geografis 5.300 kilometer, bersifat arsipelago, dan berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa, tidak memiliki kesanggupan menghidupkan industri kedirgantaraan yang sebenarnya justru bisa amat membantu tegaknya persatuan, kesatuan, dan rasa kebangsaan?
===
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/13/teropong/3834211.htm
Labels: Ninok Leksono, Opini, Teknologi