Oleh Mohamad Sobary
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/23/persona/3857213.htm
=====================
Sebuah negara bisa hidup tanpa media. Tapi, bangsa tidak. Negara yang dipimpin pemerintah otoriter bisa menipu diri karena memiliki "media-mediaan" yang hanya bisa menjilat dan memuja segenap sepak terjang pemerintah. Tapi, sebuah bangsa punya hati nurani yang membuatnya menolak penjilatan.
Media itu aset bangsa. Dia bukan hanya milik kita orang-orang media. Aset ini mahal. Media bisa mencapai tahap kebebasan seperti sekarang ini karena perjuangan penuh dedikasi dan pengorbanan banyak pihak.
Dengan kata lain, kita berutang kepada para aktivis, para intelektual, penulis, seniman, budayawan, ahli komunikasi massa, dan juga kepada pihak lain yang menaruh peduli akan kebebasan ekspresi melalui media. Mereka pernah dibikin menderita, "diinteli", diteror, hilang atau mati karena ikut membela media meskipun secara pribadi mereka tak memperoleh keuntungan langsung.
Tapi sekarang, kita, orang-orang media, melupakan sejarah ini. Media seolah hanya milik kita. Sering kita pongah, seolah media sebuah dunia lain, mandiri, dan mutlak merdeka dari campur tangan pihak lain. Seolah kita makhluk Tuhan dari ras yang lain sama sekali dari mereka yang bukan orang-orang media.
Kita sering—mungkin diam-diam—merasa eksklusif. Tapi, sering pula—ini juga diam-diam—kita tidak konsisten. Terhadap Anda, yang bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, dengan enak orang media ibaratnya melangkahi Anda tanpa permisi, atau tak peduli sama sekali seolah Anda tak layak ditegur. Tapi, bila Anda penulis (apalagi terkemuka) atau pengamat (biarpun tak bisa berpikir jernih lagi), atau seniman besar, saya jamin di depan Anda kami akan membungkuk sedalam-dalamnya.
Juga kalau Anda orang penting, berkedudukan tinggi, dan merupakan sumber berita. Memang tak jarang kita juga akrab dengan orang-orang biasa, yang kreatif, dan tampil beda dari orang-orang lain. Mereka pun dihormati sebagai sumber berita. Tapi hanya itu.
Memang harus dilihat secara jernih bahwa media banyak jenisnya. Ada yang menjaga kredibilitas begitu rupa hingga ibaratnya noda setitik pun tak dibolehkan menempel di "badannya". Kita angkat topi kepada mereka. Dan, saya pun bersedia membungkuk hormat karena ia layak dihormati.
Tapi, tak semua media yang pernah punya kredibilitas mampu mempertahankannya. Alih generasi, pergantian zaman, dan pergantian orientasi jurnalistiknya, bisa membuat media tak lagi terlalu terhormat di mata publik. Apalagi media yang hadir semata untuk mengintip peluang bisnis. Di dalam media jenis ini orang-orangnya tak tampak memelihara kredibilitas, tak menjaga idealisme, dan juga tak merasa penting memelihara sikap kritis.
Tentu saja kita harus tahu pula media bukan makhluk seputih salju di atas batu hitam. Dan, di muka bumi ini memang tak ada media seperti itu. Di sini, di zaman kebebasan pers ini, kita orang-orang media, dengan sikap para true believers, memelihara formula good news is bad news secara agak fanatis.
Bisa saja hal itu terjadi karena kita kurang matang, tapi tak mustahil karena tidak kreatif dan belum punya kecanggihan mengolahnya menjadi sesuatu yang enak dan memberi pembaca pencerahan tanpa setitik pun menodai prinsip-prinsip jurnalistik.
Kita, orang media, memandang kebebasan pers sebagai mantra suci, sehingga demi kebebasan pers itu kita tak terlalu menyesal telah melukai manusia dan kemanusiaan. Kebebasan pers telah membuat kita merasa di atas siapa saja hingga tampak sekali dewasa ini bahwa kelihatannya tak ada orang yang patut kita hormati. Tak ada dirjen atau sekjen, bahkan menteri, yang kita handle with care.
Ada sikap populis yang membara, di bawah payung kebebasan pers tadi, yang membuat sebagian kita, orang media, mudah memburu orang tertentu yang dicurigai menyimpang, sehingga pagi-sore, siang-malam orang itu kita beritakan terus-menerus sampai harga dirinya habis tandas, seolah kita tak mungkin selingkuh dari kesucian profesi.
Ini menjadi fenomena kebudayaan kita karena kita bangga akan profesi yang mulia itu, mabuk kredibilitas, dan sikap populis atau hanya karena kementahan sikap politik dan tak adanya wisdom dalam diri kita? Sikap mengandalkan hak jawab—bahwa orang boleh membantah—di negeri ini bukan jawaban yang cukup adil.
Banyak orang yang doyan sensasi sehingga lebih dari sembilan puluh sembilan persen hak jawab telah kehilangan fungsi dan relevansinya untuk meluruskan apa yang terlanjur kita bikin melengkung..
Ada bahkan di antara kita yang berkata bahwa dirinya sudah terbiasa menghadapi keluhan sumber berita atau pihak lain yang dirugikan. Ada terselip rasa bangga di sana. Sulit saya memahami apa gunanya bangga dalam perkara—sengaja atau tidak—membikin pihak lain kecewa?
Media memang bukan lembaga suci dan kita orang-orang media bukan malaikat. Tapi, kalau kita agak rendah hati, dengan sikap cermat, dan hormat pada orang seperti kita hormat pada diri sendiri, saya kira media tak akan dicap angkuh, sebagai lembaga yang tak tersentuh kritik. Ini merugikan kita sendiri.
Kita bangga menjadi pilar ke empat demokrasi. Kita bangga menjadi polisi moral yang gigih meluruskan pihak lain. Tapi mengapa kita biarkan diri kita menodai diri dari dalam, dengan sikap yang agak kelihatan jelas membuat kita begitu arogan, angkuh, dan tak tersentuh?
Monday, September 24, 2007
Orang-orang Media
Labels: Mohamad Sobary, Renungan
Tuesday, September 18, 2007
Puasa dan Kejujuran
Oleh Salahuddin Wahid
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/18/opini/3853958.htm
=====================
Hadis Riwayat An Nasai, Baihaqi, Ibnu Huzaimah, dan Thabrani, dari Abi Ubaidah RA: "Saya mendengar Rasulullah bersabda, 'Puasa adalah perisai selama yang bersangkutan tidak merusak.' Lalu ada yang bertanya, 'Dengan apa merusaknya?' Jawab Rasulullah SAW, 'Dengan berbohong atau bergunjing.'"
Jadi, kejujuran adalah salah satu tujuan dan kunci keberhasilan puasa kita. Kita pun menjalani puasa Ramadhan dengan penuh kejujuran. Tidak ada orang yang memulai harinya dengan makan sahur, lalu di luar rumah dia secara sembunyi-sembunyi makan atau minum. Tentu kejujuran itu dijaganya tidak hanya dalam makan dan minum, tetapi juga dalam hubungan fisik suami istri.
Mengapa kita bisa menjaga kejujuran dalam masalah dan minum serta hubungan suami istri itu yang sifatnya personal, tetapi tidak (kurang?) bisa menjaga kejujuran dalam masalah lain yang juga menyangkut (merugikan) kepentingan orang lain? Padahal, setelah Indonesia merdeka, kita telah mengalami lebih dari 60 kali berpuasa Ramadhan. Pertanyaan tersebut patut diajukan kalau kita melihat praktik penyelenggaraan negara dan kenyataan dalam kehidupan masyarakat kita yang tidak menunjukkan indikator kejujuran yang jelas dan nyata.
Ada yang salah?
Maka, kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagaimana memperbaikinya? Tentu amat sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Salah satu caranya ialah belajar dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kejujuran adalah dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT (Innama buitstu li'utammima makaarimal akhlaq).
Seorang ulama menyatakan bahwa hakikat kejujuran ialah mengatakan sesuatu dengan jujur di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyelamat kecuali kedustaan.
Kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran. Pertama, akal yang wajib memandang buruk kedustaan, apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak mencegah bahaya.
Kedua, agama dan syariat yang memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dan kejujuran serta memperingatkan bahaya kedustaan.
Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran.
Keempat, memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat. Ada sebuah kata mutiara: "Jadikanlah kebenaran (al Haq) sebagai tempat kembalimu (rujukanmu), kejujuran sebagai tempat keberangkatanmu, sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping paling utama."
Bukan puasa korupsi
Di sebuah koran saya baca pendapat B Aritonang (BPK) supaya kita puasa korupsi. Menurut saya, pendapat itu kurang tepat. Yang tepat ialah menghentikan korupsi dengan memakai puasa Ramadhan sebagai titik tolaknya. Kalau kita tidak juga mampu menjadikan puasa, yang sudah lebih dari 60 kali dijalani bangsa Indonesia, sebagai faktor pendorong untuk menanamkan kesungguhan meraih kejujuran, menurut saya kita tidak mampu menangkap makna dan esensi ibadah puasa. Kita hanya akan memperoleh lapar dan haus saja dari puasa kita, seperti sabda Rasulullah SAW di dalam sebuah hadis.
Kita juga perlu merenungkan teladan yang diberikan oleh Pak Waras yang mengembalikan uang Rp 429 juta kepada PT Lapindo Minarak karena itu bukan haknya. Dia hanya berhak menerima Rp 56 juta dan ternyata menerima Rp 485 juta. Sebagai penghargaan terhadap kejujurannya itu, Pak Waras menerima hadiah sebuah rumah lengkap dengan isinya. Sungguh suatu kontras dengan sikap sejumlah pamong desa yang konon memotong 20 persen dari dana uang muka (20 persen) uang ganti rugi yang diterima para korban, seperti yang diberitakan sejumlah media.
Kita hanya bisa mengatakan bahwa kita telah menang dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan kalau kita mampu mengubah perilaku di dalam kehidupan keseharian kita selama sebelas bulan ke depan. Dari yang tidak jujur menjadi jujur, dari yang pemarah menjadi penyabar, dari yang serakah menjadi suka berbagi, dari yang sombong menjadi rendah hati.
Jadi, menilai kita menang atau tidak bukannya pada akhir Ramadhan 1428 H ini, tetapi menjelang Ramadhan 1429. Semoga kita mampu memanfaatkan Ramadhan 1428 H sebaik-baiknya.
Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng
Labels: Renungan, Salahuddin Wahid