Oleh SamuelMulia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/16/urban/3832338.htm
================
1. Anda sendiri yang tahu.
2. Kalau Anda ragu-ragu, itu berarti Anda tak yakin. Tak ada manusia ragu bisa yakin apakah ia mau ternama, terkenal, atau keduanya, atau tidak ingin menjadi keduanya, bukan?
3. Jangan jadi terkenal, jadilah ternama. Terkenal bisa tanpa usaha, tetapi menjadi ternama, maksudnya Anda punya nama, mengukir prestasi, itu memerlukan jalan panjang yang kadang berliku.
Saya bisa saja berteman baik dengan Paris Hilton dan duduk minum kopi dengan Bruce Willis—saya bisa ikut terkenal karena mengenal mereka maksudnya—tetapi yang ternama dan punya prestasi itu tetap mereka. Saya cuma teman untuk duduk-duduk, bahkan mungkin bisa jadi dayang-dayang.
4. Dahulu kalau saya berlibur, saya berusaha tinggal di hotel ternama dengan riwayatnya yang legendaris karena saya ingin diasosiasikan dengan hotel ternama itu dan karena Naomi Campbell menjadi salah satu pelanggannya. Padahal, saya tak akan pernah ternama karena mencetak riwayat yang legendaris seperti hotel itu dan mbak Naomi adalah sebuah perjalanan panjang.
5. Teman saya mengatakan kalau kita memiliki keyakinan kita mampu dan ternama buat diri kita sendiri, bukankah selayaknya orang lain yang berhak menilai apakah kita sudah ternama sehingga kita tak jadi jago kandang saja? Saya setuju. Itu mengapa ada yang berprofesi sebagai kritikus, yang memberi masukan. Saya hanya mengingatkan, kalau memberi masukan itu bisa jadi benar bila dinilai dengan hati yang waras, tetapi bisa juga dinilai dengan hati tak waras. Balas dendam atau iri hati, misalnya. Bedanya setipis kertas tisu. Kan, seperti pepatah mengatakan, dalamnya hati siapa tahu?
6. Anak buah saya seorang pembuat puisi ingin menerbit kan buku mengenai karyanya. Ia kesal karena pembuat puisi kondang tak mau memberikan komentarnya di buku itu. Terus saya berpikir, mengapa seseorang sampai perlu membutuhkan pengakuan dari orang ternama. Apakah begitu tidak yakinnya kita ini dengan apa yang kita ciptakan sendiri? Bukankah yang sekarang ternama, dahulu pun tak punya nama?
Maka, saya sarankan dia maju terus tanpa orang ternama karena ketika orang ternama membaca puisinya, puisi teman saya itu bisa menjadi inspirasi buat si ternama. Yang namanya maling kan bukan cuma di jalan. Dan belum tentu yang ternama itu bukan maling. Sekali lagi, dalamnya hati siapa tahu?
7. Give more, expect less.
Sunday, September 16, 2007
Mau Terkenal dan atau Ternama?
Labels: Gaya Hidup, Samuel Mulia
Tak Layak Bagimu
Oleh SamuelMulia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/16/urban/3832338.htm
================
Suatu siang saya memasuki gerai telepon genggam di sebuah mal. Saat itu saya hanya bercelana jins, sepatu sport yang saya injak bagian belakangnya dengan kaos berlengan pendek sebagai atasan.
Secara keseluruhan penampilan saya seperti mahasiswa tanpa harapan lulus dan tanpa punya masa depan. Salah satu petugas pria langsung menyelidiki saya dengan matanya yang menusuk tajam, dari atas hingga bawah plus senyumnya yang mencibir.
Saya yakin sekali setelah melihat gerak tubuhnya itu, dia menggolongkan saya langsung sebagai pembeli tak punya harapan. Apalagi ketika saya menanyakan telepon genggam seri sekian yang harganya lebih dari sepuluh juta rupiah, dengan penampilan ala mahasiswa tanpa harapan itu. Saya ingat wajah dan senyumnya yang mencibir. Mungkin sama seperti tulisan saya beberapa minggu lalu soal seorang pembaca yang sakit hati dan sampai sekarang masih mengingat wajah saya yang angkuh dan tidak ramah itu. Sekarang saya baru tahu rasanya dihina, tepatnya dianggap tidak mampu.
Jatuh tempo
Sebulan kemudian, saya dicibir secara tidak langsung oleh dua fotografer kondang di Jakarta ketika saya hendak meminta keduanya membantu sebuah majalah baru klien saya. Majalah buatan lokal. Yang pertama menjawab telepon saya, berjanji mau membantu dan berjanji juga akan menghubungi saya kembali untuk memberi tahu waktu yang tepat, karena kesibukan jadwalnya.
Saya tunggu selama dua hari. Tak ada jawaban. Saya SMS ulang lagi, ia masih membalas SMS saya dan berjanji memberi tahu jadwal yang tersedia. Sampai hari ini, SMS saya tak pernah ada jawabannya.
Mau saya SMS lagi, saya merasa sayang pulsa saya. Tak hanya itu, saya juga harus lebih peka. SMS yang tak terjawab itu bisa jadi sebuah tanda ia tak bersedia, hanya mungkin ia tak tega mengatakannya. Mungkin ia merasa majalah klien saya itu belum mampu dan belum layak baginya. Persis seperti cibiran petugas di gerai telepon genggam itu. Saya dianggap tak layak membeli telepon genggam di atas sepuluh juta rupiah.
Yang kedua, menyapa saya ramah di sebuah pesta kaum jetset. Sama seperti peristiwa pertama, ia menjanjikan untuk membantu majalah klien saya. Dua minggu setelah pertemuan yang menjanjikan, saya meneleponnya, tetapi tak mendapat respons. Karena tidak diangkat, saya berasumsi ada kata missed call di layar telepon genggamnya. Itu berarti saya mengharap ia membalas telepon tak terjawab itu.
Ternyata tidak. Seminggu setelah itu, saya bertemu dengannya di sebuah pesta jetset lagi. Dan sekali lagi saya meminta pertolongannya tanpa harus mengingatkan saya pernah meneleponnya. Ia menjawab. "Pasti, Mas. Pasti."
Dia memang sangat konsisten dengan jawabannya. Pasti tidak menolong, maksudnya. Karena sampai tulisan ini melayang ke meja editor, dia tak pernah menjawab telepon saya.
Kemudian saya berpikir mungkin fotografer yang kedua ini sama juga dengan petugas gerai tadi. Jawaban-jawaban yang mirip mimpi di siang bolong itu seperti menyatakan kepada saya "kami tidak layak bagimu". Janji yang bak mimpi di siang bolong itu juga saya pernah lakukan. Kadang saya merasa orang tak layak menerima pertolongan saya. Jadi, tampaknya kejadian di atas seperti tagihan kartu kredit yang jatuh tempo buat saya.
Terkenal, tetapi tak ternama
Ketika majalah baru dari klien saya terbit, sebuah toko buku menolak menjualkan majalah itu dengan alasan majalahnya masih belum ternama untuk bisa masuk ke rak buku. Mereka masih harus mengevaluasi majalah itu karena majalah yang mereka jual adalah hanya majalah-majalah ternama. Majalah klien saya belum ternama. Ternama?
Dengan IQ saya yang jongkok, saya menganggap ternama itu memerlukan perjalanan panjang dan memiliki hasil positif, sementara terkenal itu bisa dilakukan dalam waktu sekian detik, dan bisa jadi hasilnya tak selalu positif. Saya membunuh lima orang terkenal di sebuah mal, maka saya akan terkenal juga.
Banyak pembaca yang mengatakan kepada saya, saya diharamkan mengatakan IQ saya jongkok. Katanya masak ciptaan Tuhan bicara seperti itu. Padahal, saya ini mau jujur, saya memang seperti itu. Mengapa saya merasa itu oke-oke saja, karena buat saya jongkok dan tidak jongkok, keduanya juga kebesaran Tuhan. Keduanya memiliki nilai sama. Sama-sama maksimal. Yang satu maksimal pandai, yang satu bodohnya maksimal. Saya melihatnya seperti itu, bukan melihat bahwa bodoh itu kurang pandai. "Bisyaaa aja," kata teman saya.
Toko buku itu sendiri terkenal, tetapi tak ternama. Ia menjadi terkenal karena menjual majalah ternama. Jadi, yang ternama majalahnya, tokonya sama sekali tak ternama, hanya terkenal, artinya dikenal sebagai tempat berjualan majalah ternama.
Itu sebabnya banyak teman saya yang penulis atau fotografer, termasuk saya juga, selalu ingin karya-karyanya masuk ke majalah ternama. Selain membanggakan, kata salah satu dari penulis, bisa mendongkrak kehidupan masa depan. Seharusnya saya ini berpikir, bukan masuk ke majalah kondang yang penting, tetapi seberapa jauh saya ini meyakini kehebatan saya sendiri tanpa harus mencari bala bantuan dari luar.
Kalau saya yakin saya ini ternama buat diri saya sendiri, artinya saya mengevaluasi saya ini oke, maka mau masuk majalah ternama atau tidak, tak akan jadi masalah.
Setelah saya mengalami perjalanan hidup naik dan turun, saya berpikir masa depan saya itu tak ditentukan apakah karena saya masuk ke majalah ternama atau tidak. Lha wong setiap pagi saya bisa bangun dan punya nyawa, kan bukan karena koran ternama ini yang memberi saya nyawa? Jadi, saya menggantungkan masa depan itu ke Sang Pemberi nyawa, dan bukan ke sebuah toko buku, majalah, biro iklan, atau fotografer.
SamuelMulia
Penulis Mode dan Gaya Hidup
Labels: Gaya Hidup, Samuel Mulia