Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/26/utama/3868149.htm
===================
"Aset paling berharga bagi perusahaan pada abad ke-21 adalah pengetahuan dan pekerja terdidik. Pengetahuan telah menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan lantaran dapat terdepresiasi, bahkan memunculkan perusakan lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia". (Peter Drucker, Management Challenges for the 21st Century)
Pekan silam terbit daftar orang terkaya Amerika versi majalah Forbes. Yang menarik, urutan teratas masih—untuk ke-14 tahun berturut-turut—ditempati pendiri Microsoft Corp Bill Gates, dengan harta sekitar 59 miliar dollar AS (sekitar Rp 560 triliun). Pada urutan ke-4 ada Larry Ellison, pendiri dan CEO Oracle, dengan kekayaan 26 miliar dollar AS.
Perubahan terjadi pada daftar 10 orang terkaya. Untuk pertama kalinya tahun ini masuk dua pendiri perusahaan Google Inc, yakni Sergey Brin dan Larry Page, di urutan ke-5. Kekayaan kedua mogul berusia 34 tahun ini membesar empat kali sejak tahun 2004 dan tahun ini menjadi sekitar 18,5 miliar dollar AS. Nilai saham perusahaan mereka meningkat 500 persen.
Nama-nama lain dalam daftar Forbes tersebut berasal dari kalangan investor, sementara urutan kedua diduduki oleh mogul kasino. Di luar itu, harga minyak yang membubung juga membantu meningkatkan kekayaan juragan (baron) minyak bersaudara, Charles dan David Koch, yang tahun ini menempati urutan ke-9 dengan kekayaan 17 miliar dollar AS.
Mengamati daftar di atas, satu hal yang menggelitik adalah tampilnya sosok-sosok yang berusaha di bidang teknologi informasi (TI), dalam hal ini Microsoft, Oracle, dan Google. Tampaknya, tampilnya orang-orang tersebut menggantikan citra lama bahwa yang bisa menjadi orang terkaya adalah mereka yang berusaha di sektor pertambangan, otomotif, atau usaha konvensional lain.
Dari satu sisi, ini seperti menyiratkan atau membenarkan penilaian bahwa peluang ekonomi, atau perekonomian itu sendiri, telah berubah, yaitu dari ekonomi berbasis sumber daya (resource-based economy) ke ekonomi berbasis pengetahuan (EBP) atau knowledge-based economy.
Seperti disitir oleh Peter Drucker di atas, sumber daya (alam) tidak dapat diandalkan karena dapat terdepresiasi. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan justru terus berkembang.
Kekuatan "knowledge"
Seperti diuraikan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof Zuhal dalam bukunya (mengenai daya saing, yang segera terbit), selama sejarah umat manusia sumber daya alam, seperti tanah, mineral, minyak bumi, dan hutan, merupakan modal kesuksesan banyak bangsa, tetapi kini sumber daya alam bukan faktor utama lagi.
"Orang kini telah menemukan kekuatan baru yang nonfisik dan selalu terbarukan, itulah yang disebut knowledge atau ilmu pengetahuan," tulisnya.
Bill Gates jelas contoh yang paling spektakuler. Ia bukan tuan tanah, bukan pemilik tambang minyak, atau emas, bukan industrialis, dan bukan diktator yang memiliki tentara yang sangat kuat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, didapati bahwa manusia terkaya di dunia bermodalkan knowledge, dalam hal ini adalah pengetahuan tentang komputasi.
Ditambahkan bahwa nilai semua logam emas yang pernah ditambang dalam sejarah umat manusia, dari zaman sebelum Mesir kuno sampai penambangan modern, seperti di Freeport, termasuk berbagai cadangan negara, seperti cadangan Amerika Serikat di Fort Knox, bernilai hanya kurang dari nilai enam perusahaan komputer/TI, yakni Microsoft, Intel, IBM, Cisco, Lucent, dan Dell. Jadi, nilai perusahaan TI di atas sungguh besar dan pasti jauh lebih besar lagi kalau Google dan Oracle dimasukkan.
Dalam kolom iptek ini, 5 September silam, telah diulas pentingnya peran technopreneur, yakni wirausaha bidang teknologi, dalam merespons perkembangan zaman. Selain menelurkan tenaga-tenaga TI yang kapabel, pendidikan itu sendiri diharapkan bisa mengembangkan jiwa kewirausahaan.
Dalam soal terakhir itu, riwayat hidup tokoh seperti Bill Gates, juga orang-orang terkaya dari bidang TI di atas, bisa disimak. Bill Gates seharusnya bangga karena tahun 1973 ia diterima di Universitas Harvard yang amat bergengsi. Namun, pada tahun awal ia sudah men-DO-kan diri karena ingin mencurahkan segenap tenaga dan pemikirannya untuk Microsoft, perusahaan yang didirikan tahun 1975 dengan teman semasa masih remaja, Paul Allen. Mereka seperti mendapat "wangsit" dan itu lalu menjadi keyakinannya bahwa PC akan menjadi alat yang sangat berguna di setiap kantor dan di setiap rumah sehingga mereka lalu terpanggil untuk membuat program untuk PC.
Di sinilah tampak betapa kecerdasan Gates mampu melihat apa yang akan terjadi pada masa depan dan menangkap apa yang akan dibutuhkan. Lebih dari itu, ia memberanikan diri memenuhi panggilan hidup untuk membela visi yang diyakini tersebut dengan mendirikan perusahaan.
Hal yang sama juga diperlihatkan orang terkaya lain, Larry Ellison. Ia mendirikan Oracle tahun 1977 dengan mengerahkan semua uang 2.000 dollar AS miliknya. Riwayatnya juga tidak seluruhnya bulan purnama karena tahun 1990 Oracle dilanda krisis dan nyaris bangkrut. Di luar itu, Oracle survive dan kini banyak disebut sebagai perusahaan pembuat perangkat lunak nomor dua di dunia.
Merespons zaman baru
Menanggapi zaman (ekonomi) baru ini, Indonesia tentu saja harus merespons kalau tak mau semakin tertinggal. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh sempat menyebut perlunya dicapai massa kritis agar TI memberi manfaat berarti bagi pertumbuhan Indonesia. Maksud Menkominfo adalah tentu tidak saja pengetahuan TI semakin merasuk dalam sendi kehidupan bangsa, tetapi juga berarti karena tenaga TI yang mencapai massa kritis akan lebih mudah menggerakkan semangat kewirausahaan.
Dalam kaitan EBP, sebenarnya bidang yang terbuka tidak semata TI karena elemen fundamental di sini adalah pada aspek daya saing, yang muncul karena adanya keunggulan kompetitif, bukan lagi keunggulan komparatif.
EBP—yang mulai sering disebut-sebut di sini pada awal 1990-an—menyiratkan bahwa negara tidak dapat bersandar pada ekonomi semata, tetapi juga pada semua aktivitas kehidupan warganya dalam proses penciptaan, pemanfaatan, dan pendistribusian pengetahuan. Penerapan EBP dimaksudkan untuk memacu daya saing, produktivitas, dan pertumbuhan dengan pendekatan baru, melalui pendidikan, inovasi, pemanfaatan TI, meluaskan jejaring kerja sama, dan—yang tidak kalah pentingnya menurut Prof Zuhal—adalah melalui pemberian peranan baru yang berbeda kepada pemerintah.
Sejumlah negara, seperti Norwegia (yang kini terkenal dengan salmon dan ekspor migasnya) dan juga Finlandia (dengan industri telepon selulernya) adalah contoh sukses melalui penerapan EBP. Indonesia dalam hal ini pun perlu menetapkan langkah, kalaupun bukan untuk menciptakan "orang terkaya", untuk memperbaiki perikehidupan rakyat pada umumnya.
Wednesday, September 26, 2007
Orang Terkaya AS dan EBP
Labels: Ninok Leksono, Pendidikan
Jenius = Gendheng !
Wang Yinan bocah Tionghoa asal Beijing yang baru saja berusia 14 tahun telah diterima sebagai mahasiswa di Oxford University; salah satu universitas yang paling bergengsi di England, walaupun demikian menurut laporan dari China Daily hal ini bukanlah sesuatu yang istimewa. "Oxford-bound boy genius is 'nothing special' in China". Sehingga timbul pertanyaan kapan seorang bisa dinilai sebagai jenius ?
Kata jenius itu sendiri diserap dari bahasa Arab – Jinn atau makhluk
yang serba bisa. Manusia inteligen belum tentu jenius, sebab
inteligen berarti memiliki bakat dan kepandaian untuk cepat dan
mudah mengerti. Kata Inteligen itu sendiri diserap dari bahasa
Latin "intelligentia" = mudah mengerti. Sedangkan seorang jenius ia
harus dapat menciptakan sesuatu yang baru oleh sebab itu dalam
bahasa Latin "Genius" = menciptakan. Sampai dengan saat ini orang
masih belum memiliki kesepakatan apakah Sigmund Freud ataupun Karl
Marx maupun mang Ucup bisa dinilai sebagai manusia jenius ataukah
tidak, tetapi Kong Hu Chu sudah diakui secara resmi sebagai jenius.
Sebagai patokan untuk dapat dinilai sebagai jenius minimum orang tersebut harus memiliki IQ diatas 130. Tokoh-tokoh yang sudah diakui oleh dunia sebagai jenius adalah: Arsitoteles, Leonardo da Vinci, Pablo Picasso, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Charles Darwin, Isaac Newton dan sederetan lagi nama-nama lainnya. Banyak tokoh-tokoh yang tidak begitu terkenal, tetapi diakui sebagai jenius misalnya: Emil Krebs ia menguasai secara lisan dan tulis dengan sempurna 68 bahasa dan menguasai sekitar 47 bahasa lainnya secara lisan.
Mensa adalah organisasi untuk orang-orang yang mempunyai IQ tinggi. Mensa didirikan pada tahun 1946 di Inggris. Saat ini Mensa mempunyai lebih dari 100.000 anggota di seluruh dunia; 50.000 di antaranya di Amerika Serikat. Anggota termuda adalah George Brown seorang balita berusia 2 tahun yang sudah memiliki tingkat intelegensi sampai 152. Pada usia belum dua tahun ia sudah bisa berhitung sampai 10, mengenal semua warna, bahkan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Perancis walaupun ia lahir dari keluarga Inggris. Di Indonesia, ada lebih dari 30 anggota yang tergabung dengan Mensa Indonesia saat ini. Untuk mengetahui apakah anda layak jadi anggota Mensa bisa melakukan test di:
http://www.mensa.de/index.php?id=65
Menurut para pakar psikolog termasuk Lembroso, jenius itu identis dengan gendheng atau neurosis. Jadi tidaklah salah apabila banyak orang yang menyatakan antara gila dan jenius itu bedanya hanya satu strip saja. Oleh sebab itu banyak jenius yang akhinya jadi gila benaran misalnya Nietzsche seorang filsuf Jerman yang jenius, bahkan telah menantang Allah dengan pernyataannya: "Allah itu sudah mati !" hanya sayangnya akhirnya ia yang mati terlebih dahulu.
Kata Savant diserap dari bahasa Perancis yang berarti "orang terpelajar". Pada tahun 1887 Dr J. Langdon Down dalam seminarnya memperkenalkan apa yang disebut "Idiot Savant" adalah para penderita autisme yang memiliki kemampuan yang tidak terkalahkan dari para jenius, bahkan mungkin melebihi mereka.
Dalam usia 6 tahun, Matt Savage telah bisa mempelajari main piano dalam jangka waktu semalam. Pada usia 7 tahun ia sudah bisa mengeluarkan CD hasil komponi sendiri. Brittany Maier (buta, autis) dalam usia 18 tahun sudah bisa memainkan lebih dari 15.000 macam musik klasik tanpa buku. Daniel Tammet bisa menghitung lebih cepat daripada kalkulator, menguasai 10 macam bahasa. Pernah di test dalam satu talk show dimana ia mampu mempelajari bahasa Islandia dalam jangka waktu hanya satu minggu secara lisan dan tulis dengan sempurna. Daniel Tammet menjadi jenius bukannya sejak lahir, melainkan setelah jatuh di kepala dalam usia 3 tahun.
Kim Peek sudah bisa menghafalkan lebih dari 12.000 buku. Bukan hanya sekedar isi dari buku saja, melainkan seluruh kata demi kata. Misalnya ia bisa menghafal seluruh buku telpon hanya dalam waktu kurang dari satu jam atau lebih tepatnya men-scan buku. Dalam waktu 53 detik ia bisa membaca dan menghafalkan 8 halaman buku telpon, lengkap dengan nama dan nomor.
Kenapa bisa begitu cepat ? Sebab ia bisa membaca dua halam dalam jangka waktu yang bersamaan. Mata kiri membaca halaman no 6 sedangkan mata kanan membaca halaman no 7. Kim Peek dijadikan sebagai tokoh untuk peran Raymond Babbitt (Dustin Hoffman) dalam film Rain Man.
Di seluruh dunia pada saat ini hanya ada sekitar 100 manusia penderita savant-syndrome. Perlu diketahui pula, walaupun disatu pihak mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi IQ mereka sebenarnya rendah rata-rata sekitar 70. Sehingga untuk melakukan hal-hal yang mudah dan wajar sekalipun; mereka tidak mampu misalnya menelpon taxi ataupun belanja di supermarkt. Mereka tidak bisa membedakan hal-hal yang tidak ada formulanya, misalnya kecantikan, rasa kasih sayang, lucu, sedih ataupun gembira.
Jenius atau bodoh sebenarnya hanya sekedar penilaian atau label saja yang diberikan oleh orang-orang disekitar kita. Jenius atau bodoh hanya sebuah kata yang tidak memiliki makna bagi nilai manusia itu sendiri sebagai makhluk Tuhan dengan segala keunikannya yang tersendiri.
Jadi bagi mang Ucup; saya dinilai guo..oblok, dunguk atau idiot sekalipun ora opo-opo alias sami mawon. Jadi tepatlah seperti apa yang ditulis oleh Shakespeare apakah artinya sebuah nama ! "What's in a name, That which we call a rose by another name would smell just as sweet." Yang terpenting apakah kita bisa bermanfaat bagi sesama manusia, sebab dengan tugas itulah kita dilahirkan.
Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.net
Burn Out = Gosong Jiwa
Menjelang Hari Raya Lebaran ini banyak orang yang merasa "Burn Out", alias gersang semangat atau gosong jiwa. Bagaimana tidak capek, kita kerja siang malam dimana boro-boro uang lemburnya dibayar, dihargaipun tidak. Harga kebutuhan barang pokok semakin meningkat, hari lebaran pun sudah berada diambang pintu, tetapi tidak ada penghasilan tambahan yang bisa diharapkan. Sedang tagihan datang bertubi-tubi. Pasangan hidup dirumahpun bisanya hanya ngomel melulu, tanpa bisa dan mau mengerti perasaan maupun keadaan yang sedang saya hadapi. Jadi wajarlah kalau saya merasa seakan-akan kepala ini mau pecah !
Kata "Burn Out" itu sendiri diserap dari bahasa gaul Inggris yang bisa diartikan kelelahan fisik dan emosional. Kata tersebut pertama kalinya diungkapkan oleh seorang psikonanalis Jerman Herber Freudenberger pada tahun 1974.
Burn Out itu seperti juga api yang mulai meredup karena kehabisan bahan bakar. Hal ini bisa terjadi juga dengan manusia, dimana kita merasa seakan-akan tidak memiliki gairah maupun semangat hidup lagi. Rasanya tenaga maupun pikiran ini jadi kosong dan hampa.
Hal ini terjadi karena bukan hanya sekedar disebabkan oleh kelelahan fisik saja (physical exhaustion), tetapi juga oleh kelelahan emosional (emotional exhaustion), maupun kelelahan mental (mental exhaustion). Hal ini membuat orang jadi capek mikir, merasa jenuh, apatis, cuek dan masa bodo.
Gejala Burn Out lainnya ialah dimana kita merasa gagal, seakan-akan semua perjuangan kita itu sia-sia saja dan tidak ada artinya. Kita merasa diperlakukan tidak adil dan juga tidak dihargai. Hal inilah yang membuat diri kita menjadi kecewa berat dan stress dan kehilangan kepercayaan maupun harga diri.
Burn Out bukan hanya bisa terjadi di perusahaan saja, tetapi juga dilingkungan keluarga. Dimana sudah tidak ada rasa kasih lagi antara satu dengan yang lain. Rasa hubungan yang pada awalnya berkobar menyala-nyala begitu besar; akhirnya menjadi redup terbakar habis seperti juga lilin. Hal ini pada umumnya terjadi karena adanya kejenuhan dalam perkawinan, sehingga tidak ada komunikasi lagi antara satu dengan yang lain. Maklum segala jerih payah, pengorbanan yang diberikan itu boro-boro dihargai, waktu saja sudah tidak bisa/mau ia berikan lagi.
Berdasarkan penelitian dari Christine Maslach dan Michael P. Leister dalam bukunya: "The Truth About Burnout". Orang yang sedang mengalami Burn Out, pada umumnya ingin menyendiri, dan tidak ingin banyak bicara. Mereka ingin mencari ketenangan. Mereka tidak membutuhkan segala macam nasehat, sebab nasehat maupun usulan-usulan apapun yang diberikan; bisa disalah artiken sebagai kritikan. Masalahnya orang yang sedang mengalami Burn Out itu sangat sensitive sehingga mudah sekali tersinggung.
Berikanlah mereka waktu untuk menenangkan diri, dan jangan sekali-sekali memaksakan mereka untuk melakukan apapun juga misalnya "kapan mau kerja lagi?" ataupun mengajak mereka ke tempat-tempat Dugem seperti bioskop, Disco dsb-nya.
Sama seperti juga HP yang kehabisan batterie, untuk ini HP tsb butuh waktu untuk di charge lagi. Begitu juga dengan manusia yang mengalami Burn Out, mereka butuh waktu agar dapat memulihkan kembali semangat maupun gairah hidup mereka.
Sedangkan cara lainnya ialah dengan melakukan senam Tai Chi, sebab senam Tai Chi itu bukan hanya untuk kebugaran jasmani saja, tetapi juga rohani. Tai Chi merupakan meditasi gerak yang menyadi penyeimbangan atas meditasi duduk.
Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.net