Oleh Ariel Heryanto
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/07/persona/3894521.htm
=====================
Lebih dari satu dekade lalu rezim militer Burma terpukau konsep dwifungsi ABRI, bahkan ideologi Pancasila sesudah dipelintir Orde Baru. Mereka ingin mengimpor semua itu dari Indonesia. Maklum waktu itu jadi perwira militer di Indonesia kelihatan wah banget. Hak istimewa berlimpah. Berada di atas hukum. Dan yang terpenting bisa kaya raya tanpa berperang.
Siapa tidak terpikat? Ada anekdot seorang Presiden Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia. Dalam acara santai, sang tamu negara bertanya kepada Presiden RI, bagaimana caranya bisa berkuasa berpuluh tahun. Sang tuan rumah membisikkan rahasianya: masuklah Golkar dan ikutlah P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).
Ketika Orde Baru rontok, bukan cuma militer Indonesia yang panik. Bisa dibayangkan betapa pusing militer di Burma. Tidak ada lagi tokoh teladan. Mungkin ada yang menyanggah, antek-antek Orde Baru masih gentayangan sesudah berganti nama, suara, dan baju untuk merangsek masuk pucuk kekuasaan lagi. Benar, tetapi bagaimanapun juga Indonesia sekarang tidak sama dengan 15 atau 20 tahun lalu.
Sebulan ini media massa kita meributkan kasus mantan jenderal yang diduga menerima hadiah dari pengusaha dengan cara yang keabsahannya dipermasalahkan beberapa pihak. Pada zaman Orde Baru mana mungkin harta jenderal atau mantan jenderal dipertanyakan? Mana ada koran menyiarkan berita begituan?
Perkembangan di Burma bisa diikuti dengan melirik sejarah Indonesia sendiri. Di Burma, militer mengambil alih kekuasaan secara tidak sah (alias kup) setelah terbukti kalah dalam pemilihan umum tahun 1990. Sejak itu mereka goyang kaki di tampuk kekuasaan. Untuk mempertahankan kenikmatan ini mereka tidak ragu membuat banjir darah rakyat yang dibantai. Sementara para jenderal dan keluarga mereka hidup mewah, khususnya bila berpelesir ke luar negeri.
Sulit dibilang militer Indonesia melakukan kup. Mereka memang merebut kekuasaan dari serombongan tentara berpangkat menengah yang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa perwira tinggi. Kelompok ini menamakan diri Gerakan 30 September (G30S), tanpa embel-embel "PKI". Apakah PKI ikut diam-diam atau sama sekali tidak terlibat, masih diteliti para ahli.
Orde Baru tidak kalah pemilu lalu merebut kekuasaan, seperti junta militer di Burma, tetapi perbedaan itu tidak total. Ada bayang-bayang pemilunya di situ. Bisa dibilang Orde Baru merupakan pihak yang beruntung mendapatkan durian jatuh dari pohon yang digoyang-goyang pemerintah sebelumnya (Presiden Soekarno) dan militer waktu itu.
Menurut sarjana Daniel Lev almarhum, dibatalkannya pemerintahan parlementer di Indonesia akhir dekade 1950-an dan ditegakkannya negara otoriter Demokrasi Terpimpin merupakan siasat Presiden Soekarno dan Jenderal Nasution untuk mencegah berkuasanya PKI yang diramalkan akan menang jika diadakan pemilihan umum nasional secara adil dan demokratis.
Yang terjadi kemudian sudah kita ketahui bersama. Soekarno terjungkal. PKI dibantai habis-habisan. Militer naik panggung kekuasaan tanpa harus bertanggung jawab pada siapa pun. Modal asing masuk dan menggenjot industri kapitalisme yang dalam bahasa Orde Baru disebut Pembangunan. Hasilnya menakjubkan, tetapi tidak terbagi merata.
Ketimpangan antara kesejahteraan para jenderal dan prajurit pada tahun 1965 telah menjadi salah satu motivasi Gerakan 30 September. Begitulah penjelasan resmi mereka dalam siaran pers setelah merebut stasiun RRI.
Ketimpangan itu ternyata tidak pernah menyempit sejak berkuasanya Orde Baru. Malahan menjadi-jadi. Sebagian dari ketimpangan itu diakibatkan tidak meratanya kesempatan melakukan penjarahan harta karun bangsa dan negara. Istilah lain untuk korupsi.
Beberapa mantan jenderal yang sebulan terakhir diberitakan media massa belum terbukti bersalah. Dan semua pihak layak menghormati asas praduga tak bersalah. Tetapi, yang jelas praktik pemberian "hadiah" bernilai raksasa bukan hal yang lazim dinikmati sebagian besar warga negara biasa. Tanyakan para korban lumpur Sidoarjo. Tanyakan juga para prajurit berpangkat rendah.
Bulan lalu dalam sebuah diskusi terbuka di Melbourne tentang 10 tahun reformasi Indonesia, seorang hadirin bertanya bagaimana cara terbaik mengatasi korupsi di Indonesia. Sebagai salah satu panelis, Irman Lanti menjawab tegas: tembak mati. Sebagai panelis lain saya tidak setuju.
Keesokannya saya baca koran: yang tertembak mati bukan koruptor besar. Menurut berita, tentara dan polisi berbaku-tembak. Sama-sama berpangkat rendahan. Menurut berita di koran pula, bentrok seperti ini disebabkan minimnya kesejahteraan mereka.
Di Burma, beberapa prajurit muda menolak perintahan atasan untuk menembak para biksu yang hanya punya nurani dan bukan senjata atau gairah menggantikan para jenderal berkuasa di istana.
Tuesday, October 9, 2007
Timpang
Labels: Ariel Heryanto
Satu Detik setelah Loe Koit ! - Bag. 3/3
Banyak orang tidak yakin akan adanya jiwa di dalam tubuh kita, maklum jiwa itu tidak bisa dilihat, tetapi anehnya di Indonesia ada Dr Jiwa, Rumah Sakit Jiwa maupun Asuransi Jiwa, walaupun belum ada satu orang pun yang pernah melihat jiwa.
Pertanyaan saya kapan jiwa/roh dari orang tsb akan keluar meninggalkan tubuhnya? Apakah setelah ia tidak bernafas lagi? Menurut beberapa kepercayaan dan pendapat orang, setelah orang itu mati jiwa/roh dari orang tsb akan tetap berada melayang-layang disekitar tubuhnya selama 72 jam oleh sebab itulah mereka tidak akan mau menguburkan mayat tsb sebelum masa 72 jam ini lewat.
Sedangkan menurut pendapat mang Ucup, orang itu meninggal dunia (mati) apabila jiwanya sudah tidak bisa balik atau berhubungan lagi dengan tubuhnya, jadi sudah benar-benar keluar dan putus hubungan dari tubuh tsb. Kalau kita sudah keluar dari pintu untuk pindah ke alam baka, kita tidak akan bisa balik lagi masuk kembali melalui pintu yang sama. Orang yang mati suri pada umumnya belum keluar dari pintu ini, mereka masih berada di dunia fana, mereka belum melewati batas pintu kematian.
Kata jiwa dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Sansekerta "jiva" sedangkan kata roh diserap dari bahasa Arab Al-Ruh. Sedangkan Soul dalam bahasa Inggris diserap dari kata Jerman Kuno "seula". Sedangkan jiwa sudah meninggalkan raganya dalam bahasa Indonesia disebut "arwah".
Jiwa dalam bahasa Arab disebut juga "al-nafs' seperti juga dalam bahasa Ibrani "nefesy'. Kata ini identis dengan nafas, sebab Sang Pencipta menciptakan manusia dengan cara meniupkan "nafas" kehidupan kedalam raga manusiawi. Oleh sebab itu juga kata bernafas dalam bahasa Jerman "atmen" diserap dari bahasa Sasenkerta "atman" yang berarti jiwa. Sedangkan dalam bahasa Yunani "Psyche" maka dari itu jurusan ilmu jiwa disebut Psikologi.
Keyakinan tentang keberadaannya jiwa bukan dibahas oleh para agamaist saja melainkan sudah ribuan tahun sebelumnya dibahas dan diakui juga oleh para filsuf besar Plato, Socrates maupun Rene Descartes yang pernah mengeluarkan pernyataan bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan, bahwa seseorang bisa berpikir. "Aku berpikir maka aku ada" dalam bahasa Latin "Cogito ergo sum" atau dalam bhasa Perancis "Je pense donc je suis".
Mengenai jasad atau tubuh seseorang sudah jelas bahwa ia akan kembali menjadi debu, tetapi kemana pergi jiwa/roh nya? Menurut Prof. Dr. Werner von Braun Alm. seorang ilmuwan yang sangat piawai sekali dalam hal pembuatan roket: "Saya percaya akan adanya roh/jiwa, karena berdasarkan logika dari ilmu pengetahuan, tidak mungkin sesuatu akan hilang begitu saja tanpa berbekas, kalau tadinya ada nyawa di dalam tubuh kita, berarti nyawa tsb akan tetap ada dan akan tetap hidup terus!"
Banyak orang sudah berusaha untuk mengukur berdasarkan berat badan orang hidup dan orang mati dan selisihnya inilah yang mereka definisikan sebagai beratnya dari jiwa/roh.
Apakah mungkin jiwa/roh itu merupakan perasaan kita, seperti kasih sayang, marah, sedih, senang, rasa cemburu? Karena perasaan juga tidak bisa diukur dan ditimbang, disamping itu belum ada manusia yang bisa menciptakan atau mendefinisikan secara exact perasaan itu bagaimana! Kita bisa menciptakan robot yang serba canggih, tetapi tidak mungkin manusia bisa menciptakan robot yang bisa mempunyai perasaan, karena robot tidak mempunyai jiwa/roh. Maka dari itu juga kata nafsu, seperti nafsu birahi, nafsu amarah dalam bahasa Indonesia, diambil dari kata yang sama seperti jiwa "al-nafs" dalam bahasa Arab.
Walaupun demikian ada banyak orang yang berpendapat bahwa perasaan itu adalah hasil produksi atau output dari daya pikir kita, maka dari itu kalau otak dari orang tsb mati, maka matilah juga perasaannya atau dalam arti kata lain tidak ada perasaan lagi setelah kita mati atau tidak ada lagi kehidupan setelah mati. Aliran yang mempercayai pendapat ini disebut Epiphänomenalismus. Apakah bisa dibuktikan bahwa perasaan itu adalah hasil output dari daya pikir kita? S/d detik ini tidak ada ilmuwan manapun juga yang bisa melokalisir di bagian otak mana kita merasa senang, sedih ataupun marah.
Menurut pendapat mang Ucup, otak kita bisa melaksanakan aktivitas perasaan seperti menyayangi, senang, susah, sedih maupun marah, tetapi penyebabnya bukanlah otak kita. Ini sama seperti TV, kita bisa melihat film karena ada TV, tetapi TV itu sendiri tidak membuat film, melainkan film dibuat di studio pemancar. Dan program tetap berjalan terus walaupun TV tsb dipadamkan. Otak kita itu sama seperti CPU dari computer, tetapi CPU tsb bukanlah programmer nya.
Kalau jasad dan badan kita mati, berarti yang akan hidup terus ialah arwah/roh/jiwa. Pertanyaan yang saya ingin ketahui dalam cara bagaimana roh/jiwa ini bisa hidup terus.
1. Apakah seperti dalam keadaan tidur atau seperti dalam keadaan pingsan, jadi dalam keadaan pasiv?
2. Apakah seperti pada saat kita lagi mimpi dimana kita bisa aktiv melakukan kegiatan seperti dalam kehidupan sehari-hari ?
3. Apakah mengulang lagi masa hidup yang lampau, jadi bisa bertemu dengan kawan-kawan lama, maupun anggota keluarga yang sudah berada di alam baka?
4. Ataukah kita akan dilahirkan dalam bentuk dan wujud baru jadi memulai sesuatu dari nol lagi?
Berdasarkan pengalaman dari orang-orang yang pernah, bahkan sering memanggil arwah, kemungkinan ke tiga lah yang sering dan mudah dibuktikan. Karena kalau ia sudah dilahirkan kembali pasti arwahnya tidak akan bisa dipanggil lagi, karena arwah tsb sudah berada di dalam jasad atau tubuh baru, jadi tidak bisa keluar lagi dari terminal.
Sedangkan kalau dalam keadaan tidur alias pasiv, tentu ia tidak akan bisa aktiv berkomunikasi dengan orang yang memanggilnya. Tetapi kemungkinan lainnya arwah dari orang yang sudah meninggal bisa dipanggil kembali, karena mungkin arwah/roh tsb sedang menunggu di "waitingroom" sebelumnya ia dilahirkan kembali, jadi masih belum masuk ke tubuh atau jasad baru. Berapa lama ia harus menunggu di waitingroom? Saya tidak tahu karena dalam soal ini saya belum berpengalaman.
Apabila rekan-rekan dan para pembaca belum bosan baca mengenai masalah kematian; mungkin pada suatu saat, saya akan melanjutkan untuk menulis pengalaman mereka yang sudah pernah mati alias Mati Suri atau dalam bahasa Londonya disebut "Near Death Experience" (NDE). Apa mungkin kita bisa Sightseeing sebagai tourist dengan ticket PP ke dunia kematian ? Apa yang mereka telah lihat dan alami disana ? Bagaimana rasanya mati itu ?
Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
http://www.friendster.com/mangucup
Homepage: www.mangucup.net
"SBY-S = BY"
Oleh Budiarto Shambazy
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/06/utama/3888728.htm
================
Capres karier politik puncak yang bisa mengubah nasib rakyat. Capres menuntut pengorbanan besar karena bukan pekerjaan enteng.
Ada capres megalomaniak, ada yang berambisi dangkal. Padahal, keputusan menjadi capres menuntut refleksi mendalam dan pertimbangan saksama.
Premis ini berlaku bagi debutan atau yang pernah jadi capres. Sebelum maju, ajukanlah pertanyaan ini kepada diri Anda.
1. Apakah saya ingin jadi presiden? Banyak yang bernafsu, tetapi tak paham tanggung jawabnya.
Jika dinilai kurang serius, celakalah Anda. Jabatan presiden hanya untuk yang punya bibit, bébét, bobot.
2. Apakah saya tahu apa yang dikerjakan? Negara ini banyak masalah yang butuh solusi.
Rakyat bosan kepada presiden yang pandai bicara dan malas mempersoalkan golongan, jender, atau perlambang yang bersifat semu. Rakyat rindu kepada presiden berhati nurani yang berkelas manajer yang mau mendelegasikan wewenang.
3. Apakah saya punya waktu? Politik pekerjaan "24/7" dan presiden selalu "diuber setan". Boleh saja berkaraoke atau main golf, tetapi jangan keranjingan.
4. Apakah tepat waktunya mencalonkan diri? Tak ada kata "tua" dalam politik selama Anda berpengalaman memimpin.
5. Apakah saya siap malu? Setiap orang punya rahasia, apalagi teknologi makin canggih. Jika rahasia Anda amat memalukan, jangan maju. Kasihan keluarga dan pendukung Anda—kalau masih punya rasa malu—yang ikut menanggung aib.
6. Apakah saya bisa menang? Jangan gé-ér meramalkan kemenangan, Anda justru menggugat berapa persen kemungkinan Anda akan kalah.
Anda harus jujur, khususnya jika Anda pembohong. Kalau perlu, tanya psikiater atau tukang kebun apa pendapat mereka tentang Anda—biasanya mereka lebih jujur daripada para politisi di sekeliling Anda.
7. Apakah saya siap menerima kekalahan? Tirulah humor Bu Mega yang bilang "kami cuma kekurangan jumlah suara" setelah Pilpres 2004.
Ada politisi yang tabah menghadapi kekalahan. Namun, kalau kalah, Anda tidak perlu bernyanyi I Believe I Can Fly sambil loncat dari lantai 20 apartemen Anda.
8. Apakah saya serakah? Ini penyakit presiden dunia ketiga. Anda mengumpulkan harta untuk semua anggota keluarga, padahal makam Anda tak muat menampung semua harta curian.
9. Apakah uang saya cukup? Untuk jadi presiden, Anda harus kaya raya.
Waktu mengumpulkan dana Anda harus waspada. Jangan pinjam uang dari calon wapres, politisi pendukung, konglomerat yang berharap balas jasa, apalagi dari luar negeri.
Pinjamlah dana dari bank, titik. Kalau perlu, jual rumah atau tanah Anda.
10. Apakah keluarga saya siap? Tak sedikit keluarga presiden yang kehidupannya berantakan karena ayah/ibu mereka jadi presiden. Tetapi, Anda juga bisa membentuk dinasti politik seperti keluarga Gandhi di India atau Kennedy di AS.
Nah, kalau Anda menjawab jujur 10 pertanyaan itu, siapkanlah langkah-langkah ini.
1. Kalau sudah yakin, jangan mundur. Langkah-langkah awal penuh tantangan, tetapi setelah itu semuanya akan lancar.
2. Rumuskanlah visi dan misi jadi presiden di sehelai kertas kira-kira dengan 25 kata saja. Isinya alasan-alasan ingin jadi presiden, sasaran-sasaran yang ingin dicapai, dan mengapa Anda yang layak.
3. Siapkan biografi untuk memasarkan sosok Anda. Mungkin Anda tak mungkin menulisnya sendiri, maka sewalah orang- orang yang berkompeten.
4. Ajak keluarga berkampanye. Juga minta pengertian mereka bahwa ritme kehidupan sehari-hari pasti berubah, misalnya rumah pasti kayak pasar malam selama 24 jam.
5. Sewa profesional untuk tiga bidang terpenting: riset, komunikasi, dan strategi. Periset bertanggung jawab atas survei opini publik yang memantau posisi Anda di pasar.
Ahli komunikasi dan pakar strategi yang tepat biasanya yang memiliki latar belakang ilmu politik yang kuat. Ingat, Anda adalah "produk politik", bukan sabun atau kopi three in one.
6. Lancarkan tur Nusantara. Masa Anda kalah sama Madonna atau Mick Jagger yang masih melancarkan tur dunia?
7. Pelajari isu-isu penting. Sebelum pengumuman pencalonan Anda, sebaiknya tetirah ke tempat yang sunyi untuk sinau.
Siapkan fakta tentang berbagai isu penting dan posisi di setiap isu. Di negara ini ada 1.001 isu, mulai dari yang serius seperti poligami sampai yang sampingan kayak kegagalan timnas PSSI.
8. Sewa staf profesional dan penyusun jadwal. Hanya dua orang ini yang tahu keberadaan Anda. Mereka bertugas mengatur siapa yang bertemu Anda, mengapa mereka mau ketemu, berapa lama, dan detail lainnya.
9. Sewa manajer kampanye. Ada tiga tipe manajer kampanye: profesional yang biasa terlibat kampanye, nonprofesional berbakat ("politisi abadi"), dan nonprofesional paruh waktu (misalnya ilmuwan).
10. Bentuk tim internal. Tim terdiri dari staf profesional, penyusun jadwal, manajer kampanye, dan beberapa orang lagi yang Anda percaya dan jumlahnya 7-8 orang.
11. Untuk dua capres yang sudah resmi mencalonkan diri, camkan pesan saya. Untuk Bu Mega, pakailah slogan "Mie Gawatie Lezaaat Rasanya!"
Untuk BY (Bang Yos) ada slogan ampuh, "SBY-S = BY".
Labels: Budiarto Shambazy, Sentilan