Oleh Sunaryono Basuki Ks
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/28/utama/3867947.htm
=====================
Saat makan siang saya bertanya pada cucu saya, Salma. "Kok tidak makan dengan (lauk) ikan laut?" Salma menjawab, "Lagi gak kepingin, Kung."
"Kalau kepingin lagi gimana?"
"Ya, makan."
Saya tak tahu apakah Salma yang duduk di kelas IV SD itu benar-benar mengerti makna kata lagi dalam dua kalimat yang berbeda itu, tetapi ia mampu menggunakan kata itu dalam sebuah kalimat.
Kamus Besar Bahasa Indonesia susunan Pusat Bahasa (1990) dan Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta (1982) yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa keduanya menjelaskan lema lagi. Menurut kedua kamus itu, lagi memang bermakna ’sedang’, ’tambah sekian’, ’kembali berbuat’, ’dan atau serta merta’, ’sebagai partikel yang menekankan kata atau kalimat yang mendahuluinya’.
Ada juga gabungan kata lagi dengan kata lain seperti dalam lagi pula, lagi pun, lagi-lagi, lagian, dan selagi. Dari KBBI kita belajar, sebuah kata bisa sangat produktif dan mengandung makna yang banyak.
Kasus yang kita hadapi adalah mendadak dangdut yang dipakai sebagai judul karya. Kata dadak yang merupakan adverbia digabung dengan meng-menjadi mendadak yang berarti ’tanpa diduga (diperkirakan) sebelumnya’, ’sekonyong-konyong’, ’tiba-tiba’. KBBI memberi contoh: "banyak orang mati mendadak karena serangan jantung", dan "...kaum gerilya sering mengadakan serangan mendadak pada malam hari".
Adverbia menurut buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 1988) dijelaskan sebagai "...kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. …Adverbia sebagai kategori harus dibedakan dari keterangan sebagai fungsi kalimat". Di dalam contoh di atas, kata mendadak memerikan kata mati dan mengadakan serangan. Saya cetak miring kata mengadakan serangan sebab bilamana hanya kata serangan yang diterangkan, maka yang digunakan harus sebuah adjektiva. Sebagai contoh serangan fajar yang populer dipakai untuk menyertai sebuah peristiwa pemilihan. Kata fajar di sini berfungsi sebagai adjektiva.
Lalu, bagaimana dengan mendadak dangdut? Tanpa menonton "Mendadak Dangdut" di televisi pasti kita dibikin pusing oleh konstruksi aneh ini. Ternyata maksudnya, "menyanyikan lagu dangdut secara mendadak".
Kelenturan bahasa Indonesia dapat memperkaya bahasa itu sendiri, tapi juga bisa membingungkan jika tak memahami konteksnya. Memang karena kreativitas para seniman, sastrawan, penulis naskah drama, penulis skenario film, penulis lirik lagu, bahasa kita menjadi hidup. Belum lagi kalau kita meneliti bahasa gaul, makin pusing, tetapi bagaimana lagi? Penutur yang berkuasa, sedangkan para munsyi hanya bisa mengamati.
Sunaryono Basuki Ks Sastrawan, Tinggal di Singaraja, Bali
Saturday, September 29, 2007
Lagi-lagi Lagi
Labels: Bahasa
Rindu Mudik = Homesick
Pepatah Tionghoa mengatakan: "Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya akan kembali ke sarangnya". Hal ini terasakan sekali pada saat menjelang hari raya Idulfitri (Lebaran), dimana banyak sekali orang kejangkitan penyakit "Rindu Mudik". Rindu Mudik ini bukan hanya dirasakan oleh umat Muslim saja melainkan oleh hampir semua orang Indonesia yang berada dirantau, entah ia berada di New York, Amsterdam, Hongkong maupun di Jakarta. Rasa rindu yang dirasakan oleh mereka yang tinggal di Hong Kong maupun di Jakarta sama yang beda hanya jaraknya saja.
Pada saat kita rindu mudik, kita teringat akan kampung halaman dan orang-orang yang kita kasihi, hal ini membuat kita jadi sedih dan sakit, oleh sebab itulah dalam bahasa Spanyol rindu mudik ini disebut "el mal de corazón" = sakit hati. Kita teringat akan kampung halaman, orang tua, masa-masa yang indah diwaktu kecil. Pada saat kita masih kecil, mungkin kita harus hidup dengan segala keterbatasan, tetapi kalau saya jujur itu, bagi saya masa tersebut adalah masa yang paling indah di dalam kehidupan saya. Ingatan saya ketika masa tersebut adalah: "Woouooo…w…..fantastic. it's wonderfull, if we wanna to remember our childhood !"
Mungkin anda masih ingat ketika masa sekolah di sekolah SD, SMP, nonton bioskop, mancing ikan, bermain diwaktu hujan turun. Memang kalau dibandingkan dengan permainan anak-anak jaman sekarang, ini tidak ada apa-apanya, tetapi bagi saya ini masa tersebut mempunyai nilai yang sangat indah dan tak terlupakan.
Jadi rindu mudik tersebut bisa disamakan juga dengan rindu akan masa lampau - Notstalgia. Kata Notstalgia itu diserap dari dua kata dalam bahasa Yunani "Notos" = kembali kerumah dan "algos" = sakit/rindu.
Rindu mudik atau rindu akan kampung halaman dalam bahasa Inggris disebut Homesick sedangkan dalam bahasa Jerman "Heimweh" . Weh = sakit, Heim = rumah, Heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa Jerman kuno Heimoti = Surga.
Kata Mudik diserap dari kata "Udik" yang berarti desa atau jauh dari kota alias di udik. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita oleh sebab itu entah anda tinggal dirumah mewah yang bernilai ratusan milyar Rp ataupun bermukim di Amsterdam ataupun Hollywood sekalipun, ini tidak akan bisa menggantikan suasana seperti rumah di kampung halaman sendiri, walaupun itu di udik sekalipun juga. Jadi tepatlah pada saat kita sedang rindu mudik, kampung halaman itu bagi kita sama seperti juga "surga". Pada saat tersebut saya merasa iri terhadap mereka yang bisa pulang mudik ke kampung halamannya.
Di Eropa, penyakit rindu mudik ini lebih dikenal dengan sebutan "penyakit orang Swiss". Masalahnya sejak abad ke 15 banyak sekali pemuda dari Swiss yang bekerja sebagai tentara bayaran di Italy, Perancis, Jerman maupun Belanda. Mereka itu adalah serdadu bayaran yang pertama, oleh sebab itu juga s/d saat ini di Vatikan masih tetap mengerjakan para serdadu Swiss.
Kelemahan dari para serdadu Swiss itu mereka sering rindu mudik. Hal ini membuat banyak serdadu tersebut yang sering minggat maupun bunuh diri. Maka dari itu pada abad ke 18 di Perancis orang akan dihukum mati apabila berani menyanyikan atau bersiul lagu kampungnya orang Swiss "Kuhreihen" (Ranz de Vaches), mereka takut para serdadu bayaran mereka minggat. Apakah efeknya sama; seperti kalau orang Jawa mendengar lagu "Benggawan Solo"? Maka dari itu juga banyak orang Indonesia dirantau senang mendengar lagu musik Keroncong untuk mengurangi rasa rindu mudik.
Kenapa orang Jawa lebih sering rindu mudik ? Mungkin karena dalam bahasa Jawa kata "dalem" berarti "saya" dan kata "dalem" itu juga identis dengan "tempat tinggal".
Mungkin anda bisa merasakan kehidupan yang jauh lebih nyaman dan lebih berlimpah ruah di tanah orang, tetapi materi tidak akan bisa menggantikan maupun mengisi kekosongan maupun kesepian diri dan batin kita. Semakin lama anda berada ditanah orang semakin terasakan kekosongan jiwa kita, sama seperti juga HP yang kehabisan batterie.
Pada saat kita mudik, kita bisa nge-charge kembali batin dan kekosongan jiwa kita. Kita bisa mendapatkan kembali siraman-siraman rasa kasih dari orang-orang disekitar kita untuk mengembalikan kembali kegersangan, kekosongan maupun kesepian hidup kita dirantau. Sama seperti juga pada saat mengisi batterie; ini tidak harus berbulan-bulan walaupun hanya seminggu atau beberapa hari sekalipun juga, hal ini sudah dapat mengembalikan kembali keseimbangan jiwa kita.
Entah anda ini seorang pejabat tinggi, direktor maupun pengusaha, ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody atau sekedar nomor saja, tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.
Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di kota. Di kampung halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan kita lagi.
Para perantau yang mengadu nasib di kota-kota maupun di luar negeri pada hari Lebaran dapat bertemu dengan sanak saudara, keluarga, serta kerabat di tempat kelahirannya. Rasa haru mewarnai ajang tali silaturahmi, karena mereka selama satu tahun atau lebih berpisah kini dapat berkumpul, bercengkerama, bersendau gurau, serta melepas rindu antar saudara dan kerabat. Dari silaturahmi ini, timbullah rasa kebersamaan, kekeluargaan persatuan dan kesatuan, sehingga dapat merasakan kembali hidup dalam kerukunan, atau rukun dalam kehidupan. Pada saat mudik; kita bisa menjaga silaturahim dengan kerabat di kampung halaman atau lebih jauh lagi kita bakal tetap ingat kepada asal-muasal kita.
Bagi mereka yang tidak begitu bahagia sehingga tidak bisa mudik, anda masih tetap bisa bersilaturahmi melalui surat, chatting, email, video maupun telepon, sebab kata arti sebenarnya dari silahturahmi adalah mendekatkan hubungan kekeluargaan dari segi aspek psikologis atau rohani saja, tanpa kehadiran jasmani atau fisik. Beda silaturahim" sebab kata tersebut mengandung makna lebih dalam. Kata rahim berarti menyertakan jasmani dan rohani.
Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.net
Resep Memaafkan!
Di hari-hari terakhir ini saya mendapatkan banyak sekali email per japri, dimana mereka mohon bantuan bagaimana caranya memaafkan, sebab untuk memaafkan itu tidaklah mudah. Apabila hanya sekedar lipservice saja sih mungkin tidaklah sukar. Disamping itu kok enak dan murah banget sih nilainya maaf ini, seakan-akan barang obralan begitu.
Perkataan maaf itu sangat mudah sekali kita ucapkan, tetapi pernahkah terpikirkan oleh mang Ucup, bagaimana rasanya perasaan dari orang2 yang pernah disakiti, sebagai akibat dari pembunuhan, permerkosaan, penipuan & perselingkuhan. Jangankan untuk soal yang berat2; baru dibohongi sekali saja kadang2 sudah ngambek berat sehingga bisa musuhan ber-tahun2. Bagi mereka perkataan maaf itu besar sekali maknanya.
Dan apakah mang Ucup pernah merasakan disakiti selama bertahun-tahun, udah sabar menerima seluruh penderitaan; di akhir cerita ia minggat lagi dengan WIL/PIL yang lebih muda. Apakah kagak sakit tuh. Sekarang dia hidup senang dengan pasangannya yang jauh lebih muda, sedang aku dirumah hidup sengsara sendirian, belum lagi harus membesarkan tiga anak yang masih kecil2. Apakah untuk perlakuan seperti ini harus dimaafkan dengan secara begitu saja, seakan-akan tidak pernah ada yang terjadi ?
Yang bersalah sekarang hidup senang; sedang Gw yang disakiti hidup sengsara. Bukankah dengan memaafkan dia; hidup Gw akan menjadi lebih menderita karenanya ? Orang seperti itu bukannya harus dimaafkan sebaiknya dipenggal kepalanya dan mayatnya diberikan kepada Sumanto untuk dijadikan gule atau sate begitu. Disamping itu ngapain Gw harus memaafkan dia, boro2 dia mau minta maaf ama Gw, ngaku salah aja kagak pernah ! Jadi satu kesia-siaan saja memaafkan dia !
Harus diakui bahwa memaafkan itu tidaklah mudah dan butuh waktu, seperti juga luka, tidak mungkin akan bisa sembuh dengan seketika. Disamping itu untuk dapat memaafkan itu dibutuhkan perjuangan batin dengan diri kita sendiri. Hikmah dan keuntungan dari memaafkan itu bukannya untuk orang yang menyakiti kita melainkan untuk diri kita sendiri. Percayalah dengan memaafkan anda bisa menghilangkan siksaan dan penderitaan yang selama ini menyiksa diri anda.
Dan seperti yang pernah saya tulis: "Kita tidak akan bisa merubah orang lain, tetapi bisa merubah diri kita sendiri !" Apabila Loe senang dengan penderitaan batin yang Loe alami sekarang ini teruskan saja sampai Loe koit ! Sebab tidak akan ada manusia di dunia ini yang dapat mengambil atau melepaskan beban penderitaan ini selainnya diri anda sendiri ! Perjalanan bagaimana jauhnya sekalipun juga harus diawali oleh langkah pertama. Langkah pertama yang harus anda lakukan ialah mengambil keputusan bersedia untuk memaafkan !
Apabila kita benar2 mau memaafkan orang, kita harus bersedia menguras dan mencuci bersih seluruh arsip kotor dari kesalahan2 orang yang akan kita maafkan, jadi bukan hanya sekedar di bibir saja, melainkan harus dikosek bersih sampai ke sudut bagian yang paling dalam di batin kita. Ini hanya akan bisa terlaksana apabila Anda bersedia melakukan tahapan2 seperti yang tercantum dibawah ini.
Change of Action - Perubahan dari segi lahir: dari muka yang cemberut, bibir yang mencibir dan pandangan mata yang merendahkan, kembali kepada tahapan yang normal, umpamanya dengan mulai menyapa dan memberikan salam kembali seperti biasa. Merubah dan mengembalikan penampilan lahiriah ini tidaklah mudah apalagi kalau sudah lama bermusuhan. Dan kalau tidak bisa bertemu dengan orang tersebut kirimlah SMS atau Email just to say hello kepadanya.
Change of Mind - perubahan dalam pikiran: ini lebih sukar daripada yang pertama sebab kita harus merubah pikiran maupun pandangan kita terhadap orang tsb, hal ini hanya bisa terjadi apabila kita bersedia dan mau mengosongkan pikiran negatif kita terhadap yang bersalah dengan cara melupakannya kesalahan orang tsb. Setelah ini kosong baru bisa di isi dengan pikiran yang positif. Hal ini membutuhkan waktu dan perjuangan diri sendiri untuk berperang dengan "our inside", merubah paradigma bahwa ia melakukan kesalahan tsb hanya karena khilaf dan bukan dengan tujuan untuk menyakiti, apalagi di dunia ini "Nobody is perfect. Everyone can do wrong".
Change of Heart - perubahan dalam hati atau batin kita. Dimana sifat bermusuhan kita bukan hanya sekedar hanya dihapus saja, bahkan dirubah menjadi kasih, dari yang tadinya jauh sekarang menjadi dekat, dari yang tadinya musuh sekarang menjadi sahabat. Yang terpenting jangan sampai timbul maupun dikotori oleh pikiran "jangan-jangan" ia akan melakukan hal yang sama lagi di kemudian hari. Jadi kita harus benar2 bisa memaafkan dengan tanpa syarat!
Apabila kita sudah dapat melaksanakan ketiga tahapan tsb, maka kita akan bisa melihat dan merasakannya keindahan dari perkataan maaf tsb, jadi bukan hanya sekedar bunyi2an atau tulisan kosong saja.
Mang Ucup - The Drunken Priest
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.net